Showing posts with label History Tourism. Show all posts
Showing posts with label History Tourism. Show all posts

Wisata Sejarah Situs Gunung Padang di Cianjur

Saturday, October 11, 2014
Bagi Anda yang suka dengan wisata sejarah atau kebudayaan, mungkin nama situs Gunung Padang bisa dicatat dalam buku rencana perjalanan Anda. Sebab, situs megalitikum itu kini ramai diperbincangkan. Baik dari sisi misteri sampai dengan berbagai interpretasi dan hipotesa tentang Gunung Padang. Salah satunya bahwa ada 'piramida' di dalam tubuh bukit Gunung Padang.
Situs Gunung Padang berada di Dusun Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Ada 2 moda transportasi yang bisa ditempuh menuju situs yang berada di puncak bukit dengan ketinggian 885 meter di atas permukaan laut. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahkan meyakini situs purbakala ini merupakan situs prasejarah terbesar di dunia. Diperkirakan besarnya situs megalitikum Gunung Padang sekitar 9 kali Candi Borobudur.
Untuk menuju ke lokasi situs megalitikum yang diresmikan sejak 2011 itu, terdapat tiga pilihan moda transportasi. Diantaranya dengan menggunakan kendaraan umum, kendaraan pribadi, dan kereta api.
Pilihan pertama, menggunakan kendaraan umum. Jika berangkat dari Jakarta, Anda bisa menggunakan bus dari Terminal Kampung Rambutan menuju Cianjur. Kemudian disambung menggunakan angkutan kota 43 ke arah Warung Kondang dengan tarif Rp2.500 per orang.
Dari Warung Kondang, masih harus menyambung angkot menuju Cipanggulan dengan tarif Rp5.000. Namun, masih belum juga sampai karena harus dilanjutkan menggunakan jasa ojek langsung menuju Gunung Padang dengan tarif Rp50.000. Bila berangkat dari Terminal Baranang Siang Bogor, hendaknya menggunakan angkutan minibus berwarna putih khusus ke Cianjur. Angkutan ini biasanya akan berjalan apabila telah terpenuhi kuota 15 penumpang dengan tarif masing-masing Rp25.000.
Saat Anda telah tiba di Cianjur, jika Anda tidak sendirian, hendaknya Anda langsung bernegosiasi dengan sopir angkot agar mengantar hingga Gunung Padang. Biasanya, bila menyewa angkot untuk mengantar hingga kembali ke Cianjur. Anda hanya dikenakan tarif Rp200.000 per mobil.
Pilihan kedua, menggunakan kendaraan pribadi. Rutenya akan sama dengan rute kendaraan umum. Namun, setidaknya Anda tidak perlu bersusah payah bergonta-ganti kendaraan.
Pilihan ketiga dan merupakan moda transportasi terbaru yaitu menggunakan kereta api. PT Kereta Api Indonesia telah meresmikan rute Bogor-Sukabumi-Cianjur pada 8 Februari 2014.
Apablia telah sampai di situs Gunung Padang, pengelola Dinas Pariwisata Cianjur telah menyediakan area parkir yang cukup luas dengan fasilitas toilet umum, pusat informasi situs purbakala, dan pemandu wisata.
Tarifnya masing-masing Rp5.000 untuk parkir mobil, Rp2.000 untuk toilet, Rp2.000 untuk tiket masuk situs Gunung Padang, dan Rp50.000 untuk jasa pemandu wisata.

Sumber :  http://www.travelling.bisnis.com

Jalan Braga Bandung Tempo Dulu

Friday, July 26, 2013

Jalan Braga adalah nama sebuah jalan di Kota Bandung, Indonesia. Nama jalan ini sudah dikenal sejak masa pemerintahan Hindia-Belanda. Sampai saat ini nama jalan tersebut tetap dipertahankan sebagai salah satu maskot dan obyek wisata kota Bandung yang dahulu dikenal sebagai Parijs van Java. 
Di sisi kanan dan kiri Jalan Braga terdapat kompleks pertokoan yang memiliki arsitektur dan tata kota yang tetap mempertahankan ciri arsitektur lama pada masa Hindia Belanda. Awalnya Jalan Braga adalah sebuah jalan kecil di depan pemukiman yang cukup sunyi sehingga dinamakan Jalan Culik karena cukup rawan, juga dikenal sebagai Jalan Pedati (Pedatiweg) pada tahun 1900-an. Jalan Braga menjadi ramai karena banyak usahawan-usahawan terutama berkebangsaan Belanda mendirikan toko-toko, bar dan tempat hiburan di kawasan itu. 
Kemudian pada dasawarsa 1920-1930-an muncul toko-toko dan butik pakaian yang mengambil model di kota Paris, Perancis yang saat itu merupakan kiblat model pakaian dunia. Dibangunnya gedung Societeit Concordia yang digunakan untuk pertemuan para warga Bandung khususnya kalangan tuan-tuan hartawan, Hotel Savoy Homann, gedung perkantoran dan lain-lain di beberapa blok di sekitar jalan ini juga meningkatkan kemasyhuran dan keramaian jalan ini. 

Berikut ini adalah suasana Jalan Braga tempo dulu dalam foto-foto yang berhasil didokumentasikan.   

braga1
braga2 640x408 Foto Foto Jalan Braga Bandung Tempo Dulu
braga3 640x398 Foto Foto Jalan Braga Bandung Tempo Dulu
braga4 640x424 Foto Foto Jalan Braga Bandung Tempo Dulu
braga5 640x369 Foto Foto Jalan Braga Bandung Tempo Dulu
braga6 640x352 Foto Foto Jalan Braga Bandung Tempo Dulu

Disadur dari berbagai sumber.

Menikmati Kemegahan Bangunan Bersejarah di Kota Bandung

Tuesday, July 23, 2013

Siapa yang tak mengenal Bandung, kota wisata yang sangat populer dengan wisata belanja dan kulinernya. Selain 2 hal di atas sebenarnya masih banyak yang dapat “dijual” dari kota ini. Wisata alam, budaya dan sejarah dapat lebih dikembangkan dan dikemas lebih kreatif sehingga para pelancong tidak akan bosan berkunjung ke Bandung.  Dengan demikian eksistensi  Bandung sebagai kota wisata akan terus bertahan.
Salah satu yang bisa dikembangkan adalah wisata sejarah. Selain memiliki beberapa museum, di Bandung kita juga bisa menikmati suasana kota tua dibeberapa sudutnya dengan banyaknya gedung – gedung tua yang berarsitektur unik. Arsitektur gedung-gedung tua di kota Bandung didominasi oleh gaya arsitektur yang dikenal dengan istilah art deco, sehingga pada tahun 2001 Bandung menjadi peringkat 9 dari 10 World Cities of Art Deco. Karena banyaknya bangunan bergaya art deco ini pula kemudian kemudian Bandung dijuluki Paris van Java.
Masa kejayaan arsitektur art deco di Bandung terjadi sekitar tahun 1920-an. Ketika itu pemerintah Hindia Belanda berencana memindahkan Ibukota dari Batavia ke Bandung. Untuk tujuan tersebut secara bertahap didirikanlah gedung – gedung baru untuk perkantoran pemerintah Hindia Belanda di Bandung. Gedung – gedung tersebut dibangun dengan gaya arsitektur yang sedang populer saat itu yaitu langgam  art deco.
Langgam art deco berkembang setelah berakhirnya Perang Dunia I hingga meletusnya Perang Dunia II. Saat itu masyarakat dunia sibuk menata kembali lingkungannya yang rusak akibat perang. Para seniman dan arsitek saat itu seakan diberi kesempatan untuk mencari inovasi baru untuk membangun kembali lingkungannya yang porak-poranda, hingga kemudian lahirlah gaya seni yang saat ini dikenal dengan langgam art deco.
Menikmati kemegahan bangunan tua di Bandung dapat kita mulai dari Jalan Asia – Afrika. Di jalan yang bersejarah ini banyak berjejer bangunan kuno yang megah baik yang berarsitektur art deco maupun langgam arsitektur klasik lainnya. Grand Hotel Preanger, Hotel Savoy Homann, Gedung Merdeka, Toko De Vries dan Kantor Pos Bandung merupakan beberapa diantaranya.
Grand Hotel Preanger pada awalnya merupakan sebuah toko hingga kemudian mengalami beberapa kali renovasi dan berubah fungsi menjadi hotel. Hotel bergaya art deco geometric ini di desain ulang oleh C.P. Wolff Schoemaker pada tahun 1929 dibantu oleh seorang muridnya sebagai juru gambar yang tak lain adalah Ir. Soekarno, yang kemudian menjadi presiden pertama Indonesia.
Hotel Savoy Homman pada awalnya bernama hotel Homann, yang dimiliki oleh keluarga Homann. Pada tahun 1940 hotel bergaya art deco jenis streamline moderne ini didesain ulang oleh Albert Aalbers yang kemudian namanya ditambah menjadi Hotel Savoy Homann. Beberapa tokoh dunia pernah menginap di hotel ini, salah satunya adalah Charlie Chaplin. Pada waktu diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika tahun 1955 hotel ini bersama dengan hotel Grand Preanger menjadi tempat menginap para pemimpin dunia.
Di sebelah utara hotel Savoy Homann terdapat Gedung de Vries. Gedung ini disebut-sebut sebagai pusat perbelanjaan pertama di Bandung. Tahun 1909 dan 1920 dilakukan pemugaran toko de Vries oleh biro arsitek Edward Cuypers Hulswitt dengan gaya klasik Eropa. Terakhir pada tahun 2010 toko ini kembali dipugar hingga tampilannya seperti tampak saat ini.
 
Gedung Merdeka pertama kali dibangun pada tahun 1895 dengan nama Societeit Concordia. Pada tahun 1926 bangunan ini direnovasi seluruhnya oleh Wolff Schoemacher, Aalbers dan Van Gallen. Pada tahun 1954 gedung ini di pugar kembali untuk keperluan Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan tahun 1955. Masih di jalan Asia – Afrika terdapat Kantor Pos Besar Bandung. Kantor pos ini selesai dibangun pada tahun 1928 hasil rancangan arsitek J. Van Gendt dengan gaya art deco geometric. Dahulu jalan tempat kantor pos ini berada bernama Postweg  (Jalan Raya Pos). Jalan Raya Pos merupakan jalan sepanjang 1000 km yang dibangun pada masa Gubernur Jendral Daendels yang membentang dari Anyer hingga Panarukan dan melewati kota Bandung.
Di jalan Braga kita bisa melihat jajaran toko-toko  kuno bergaya art deco. Di jalan ini juga terdapat Gedung DENIS Bank (sekarang Bank Jabar) yang di bangun pada tahun 1936 oleh arsitek Albert Aalbers bergaya art deco.

Disadur dari berbagai sumber.

Wisata Sejarah Benteng Victoria di Maluku

Friday, July 19, 2013

Benteng Victoria terletak di Kecamatan Sirimau, Kotamadya Ambon, Provinsi Maluku. Karena terletak tepat di tengah kota, maka pengunjung dapat langsung jalan kaki ke arah timur sejauh 300 meter dari Terminal Mardika. Di depan benteng terdapat kafe-kafe tenda yang menjual berbagai makanan kecil khas Ambon.
Benteng Victoria merupakan tempat bersejarah yang terletak tepat di pusat kota Ambon. Benteng tertua di Ambon ini dibangun oleh Portugis pada tahun 1775, yang selanjutnya diambil alih oleh Belanda. Belanda kemudian menjadikan benteng ini sebagai pusat pemerintahan untuk mengeruk harta kekayaan masyarakat pribumi, berupa rempah-rempah yang melimpah di bumi Maluku.
Di dalam benteng dapat ditemui sisa-sisa meriam berukuran raksasa. Di beberapa kamar terdapat patung berukir terbuat dari kayu pilihan, peta perkembangan kota Ambon dari abad XVII hingga abad IX, dan beberapa koleksi lukisan para administratur Belanda di Maluku. Dengan melihat peninggalan ini pengunjung dapat merekam sejarah lahir dan berkembangnya kota Ambon.
Sedangkan ruas jalan di sisi depan benteng atau yang disebut “Boulevard Victoria” menghubungkan langsung ke arah bibir Pantai Honipopu. Tepat di depan benteng, dapat langsung menyaksikan Teluk Ambon yang sangat indah di saat senja hari, khususnya ketika matahari mulai tenggelam.
Sejarah
Pada masa pemerintahan Belanda, benteng ini berfungsi strategis, yakni sebagai pusat pemerintahan kolonial. Di depan benteng terdapat pelabuhan yang digunakan sebagai jalur perhubungan laut antar pulau. Melalui pelabuhan ini pula kapal-kapal Belanda mengangkut hasil rempah-rempah untuk didistribusikan ke beberapa negara di benua Eropa. Bersebelahan dengan benteng ini, juga terdapat pasar yang menjadi tempat untuk mempertemukan komunitas para pedagang pribumi. Benteng ini juga digunakan sebagai tempat pertahanan dari berbagai serangan masyarakat pribumi yang melakukan perlawanan. Dan, tepat di depan benteng inilah pahlawan nasional bernama Pattimura digantung, yakni pada tanggal 6 Desember 1817.
Pada tanggal 25 April 1950, golongan separatis yang dipimpin oleh DR. Robert Steven Soumokil memproklamasikan “Republik Maluku Selatan” (RMS). Uluran tangan pemerintah untuk mencari penyelesaian secara damai ditolak oleh pihak RMS. Karena itu pemerintah RI melancarkan operasi militer ke Maluku yang dipimpin oleh Kolonel A.E. Kawilarang. Pendaratan pertama dilakukan di Namlea, Pulau Buru pada tanggal 14 Juli 1950. Sesudah itu diduduki Pulau Tanimbar, kepulauan Aru Kei dan pulau-pulau kecil lainnya. Pada tanggal 28 September 1950 pasukan mendarat di pulau Ambon. Dalam pertempuran jarak dekat untuk merebut benteng Nieuw Victoria pada tanggal 3 Nopember 1950 di kota Ambon, Group pimpinan Letnan II Kolonel Slamet Riyadi gugur, tetapi seluruh kota dapat di kuasai Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). Dengan jatuhnya kota Ambon, kekuatan pokok RMS berhasil dipatahkan [wikipedia]

Disadur dari berbagai sumber.

Wisata Sejarah Situs Trowulan Kerajaan Majapahit

Wednesday, July 17, 2013

Inilah saatnya Anda membangkitkan rekaan imajinasi tentang kehidupan dari sebuah kerajaan terbesar di Indonesia lebih dari 700 tahun yang lalu. Ya, inilah Situs Trowulan Mojokerto, yang merupakan situs Kerajaan Majapahit dari masa abad XIII – XV Masehi. Berlokasi di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur sebagai tempat dimana Anda dapat mengenang kebesarannya dan tidak lagi menganggap bahwa kita hanya tahu dari buku sejarah atau pelajaran saat sekolah dahulu.
Trowulan adalah satu-satunya situs kota di Indonesia yang luasnya mencapai 11 x 9 km 99 km² dan menyimpan ratusan ribu peninggalan arkeologis, baik yang sudah ditemukan maupun yang masih terkubur. Berwisata ke tempat ini bukan sekedar liburan, namun Anda juga bisa menapaki sejarah besar dari sebuah kerajaan yang menjadi inspirasi Bangsa Indonesia tentang "Persatuan Nusantara". Selain itu Anda akan mengetahui bagaimana tingkat peradaban di Trowulan di masa Majapahit, mulai dari sistem pemerintahan, perdagangan, hubungan luar negeri, teknologi, arsitektur, pertanian, hingga seni kerajinan.
Kerajaan Majapahit berdiri 1293 M setelah runtuhnya Kerajaan Singosari. Didirikan oleh Raden Wijaya, awalnya berpusat di daerah Hutan Tarik yang banyak terdapat Pohon Maja yang buahnya pahit, oleh karena itu dinamakan Majapahit. Raden Wijaya sendiri adalah menantu Raja Singosari yaitu Kertanegara dari garis keturunan Ken Arok, pendiri Kerajaan Singosari. Dia menjadi raja pertama Majapahit hingga 1309 M.
Kebesaran Majapahit mencapai puncak keemasan pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada yang mengikrarkan Sumpah Palapa untuk mempersatukan Nusantara. Majapahit berhasil merangkai jejaring perniagaan lokal dan regional dengan komoditi beras dan hasil bumi yang ditukar dengan rempah-rempah, keramik, dan tekstil. Mata uang yang digunakan adalah uang gobog dan uang ma dari emas atau perak, uniknya mata uang Cina dari Dinasti Tang, Song, Ming, dan Qing berlaku juga di Majapahit. Dalam kehidupan beragama terjadi penyatuan agama Siwa dengan Budha, selain berkembang agama Karesian dan Islam. Hal ini menunjukan Majapahit sebagai negara multikultur dan masyarakatnya hidup damai dengan berbagai aliran kepercayaan secara harmonis. Majapahit mengalami pasang surut akibat perebutan tahta di kalangan keluarga raja hingga akhirnya mengalami keruntuhanya abad XV M.
Bangunan keraton Majapahit diperkirakan seperti rumah bertingkat dengan atap dari kayu tipis, tembok dari bata, lantainya dari anyaman tikar pandan atau rotan. Sementara rumah penduduk umumnya dari atap jerami. Situs-situs di Trowulan telah dipugar untuk menjaga keindahannya. Situs Trowulan ini ramai pengunjung terutama hari Sabtu-Minggu dan liburan sekolah. Setiap harinya rata-rata 50-an orang pada hari-hari biasa dan rata-rata 170-an orang pada hari liburan dan liburan sekolah.
Situs Trowulan sendiri pertama kali muncul dalam literatur berjudul “History of Java I” yang ditulis Sir Stamford Raffles tahun 1817. Raffles mengatakan bahwa nama Trowulan berasal dari Trang Wulan atau Terang Bulan. Saat ditemukan seluruh situs ini tertutup hutan jati yang cukup lebat, sehingga dia tidak terlihat sebagai sebuah kota klasik.
Situs kota kota klasik Trowulan dibagi beberapa segmen yang memperlihatkan perannya dimasa lalu. Dibangun dengan pola ruang kanal air diduga ada hubungannya dengan konsep mandala yang digunakan sebagai acuan dan dasar pembagian kosmologis kota ini. Kolam Segaran membuktikan hal tersebut tak ubahnya bagai telaga di tengah kota. Berdasarkan sketsa rekonstruksi Kota Majapahit dan foto udara memperlihatkan kota lama ini memiliki sistem kanal pengairan untuk drainase dan pasokan air yang dibuat dalam garis lurus memanjang barat laut-tenggara dan timur laut-barat daya.

Disadur dari berbagai sumber.

Wisata Sejarah Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Thursday, July 11, 2013

Wisata Sejarah Museum Sultan Mahmud Badaruddin II ---“Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Pernyataan ini tepat untuk mendorong masyarakat Tanah Air mengenali sejarah bangsa. Salah satu lokasi yang tepat untuk mempelajari sejarah adalah Museum Mahmud Badaruddin II.
Museum ini memiliki peninggalan sejarah mengenai Palembang. Terletak di tepi sungai Musi, museum ini memamerkan berbagai koleksi dari mulai arkeologi, etnografi, biologi, seni dan terutama informasi tentang pengumpulan mata uang (numismatics) sampai studi atau koleksi mata uang.
Di museum ini, Anda bisa menemukan berbagai peninggalan sejarah dari mulai koleksi foto prasasti Kedukan Bukit, patung-patung Buddha kuno dan Amarawati Ganesha, serta berbagai sisa-sisa sejarah lainya termasuk yang berasal dari era Sriwijaya.
Sultan Mahmud Badaruddin II adalah penguasa Palembang sejak 1803 sampai 1821. Museum ini pernah menjadi istana Kesultanan Palembang Darussalam. Awalnya disebut sebagai Keraton Kuto Kecik atau Keraton Kuto Lamo, bangunan ini bersama dengan Masjid Agung Palembang dibangun pada masa Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo atau SMB I. Berbeda dengan bangunan lain dari era yang sama yang menggunakan kayu, istana ini dibangun dengan batu bata.
Dengan kedatangan Belanda pada abad ke-17, istana diduduki oleh tentara kolonial. Selama perang Palembang pada 1819, Belanda mendaratkan 200 pasukannya yang ditempatkan di Keraton Kuto Lamo. Setelah Sultan Mahmud Badadruddin II ditangkap dan diasingkan, Belanda menjarah dan menghancurkan bangunan-bangunan di Palembang, termasuk Keraton Kuto Lamo. Pada tahun 1823, Belanda mulai merekonstruksi reruntuhan bangunan. Reruntuhan Keraton Kuto Lama, dibangun kembali menjadi tempat tinggal komisaris Kerajaan Belanda di Palembang, Yohan Isaac van Sevenhoven. Pada 1842 bangunan itu selesai dan secara lokal dikenal dengan rumah siput.
Sejarah memegang peranan penting akan keberadaan bangunan ini ketika Jepang tiba di tahun 1940-an. Dengan Perang Dunia ke-2 yang berkecamuk di Pasifik, bangunan bersejarah ini dimanfaatkan jepang sebagai basis militer mereka. Setelah Indonesia memproklamasikan Kemerdekaan tahun 1945, bangunan ini menjadi pangkalan militer resimen IV Indonesia: Sriwijaya.
Sebagai bangunan yang terlibat dalam begitu banyak peristiwa sejarah, museum Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan sebuah layar yang menjelaskan berbagai era dalam sejarah. Siapkan kamera Anda untuk mengabadikan bangunan museum dan seluruh keindahan sejarah yang terlihat dalam bentuk koleksi-koleksi berharga.
Museum Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan tempat yang sempurna untuk menjelajahi sejarah Palembang. Dari era Sriwijaya, Kesultanan Palembang Darussalam, era kolonial Belanda dan pendudukan Jepang hingga masa awal kemerdekaan Indonesia semua disajikan dalam 368 koleksinya. Arsitektur bangunannya sendiri termasuk unik karena merupakan kombinasi dari masa kolonial Belanda dan gaya asli istana Palembang.
Untuk menuju ke Palembang, Anda harus mengambil penerbangan ke bandara internasional Sultan Mahmud Badaruddin II. Bandara ini terletak di jalan Tanjung Api-Api dan dapat diakses dari berbagai negara termasuk Malaysia, Singapura, Cina, dan Thailand. Jarak antara bandara dan museum ini sekitar 6 km. Dari bandara, Anda bisa menggunakan taksi atau mobil sewaan.

Disadur dari berbagai sumber.

Objek Wisata Sejarah Museum Fatahillah

Saturday, June 29, 2013
Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia merupakan sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah Nomor 2, Jakarta Barat dengan luas lebih 1.300 meter persegi. Gedung ini dahulu hanya sebuah Balai Kota Stadhuis :Bahasa Belanda yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah dari Gubernur Jendral Johan van Hoorn. Bangunan itu mirip dengan Istana Dam yang terletak di Amsterdam Belanda, yang terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai sebuah kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang berfungsi sebagai penjara. Dan pada tanggal 30 Maret 1974, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah.
Gedung Museum Fatahillah Jakarta Barat
Gedung Museum Fatahillah Jakarta Barat
Objek-objek yang dapat anda temukan di museum ini antara lain yaitu perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan Tarumanegara dan Pajajaran, hasil-hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17 hingga 19, yang merupakan sebuah perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Cina, dan Indonesia. Juga ada keramik, gerabah, dan batu prasasti. Koleksi-koleksi ini terletak di berbagai macam ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Thamrin.
Terdapat juga berbagai macam koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Bahkan sekarang juga diletakkan sebuah patung Dewa Hermes (menurut mitologi Yunani, merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan bagi kaum pedagang) yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si Jagur yang dianggap memiliki kekuatan magis. Selain itu, di Museum Fatahillah juga terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulu sempat digunakan pada zaman penjajahan Belanda.
Museum ini memilik beberapa Fasilitas yang bisa anda gunakan seperti :
  1. Perpustakaan (untuk anda yang suka membaca)
  2. Kantin Museum (menyediakan makanan dan mimuman jika anda sedang lapar atau haus)
  3. Souvenir Shop (menjual cinderamata untuk kenang-kenangan dengan harga terjangkau)
  4. Sinema Fatahillah (Menampilkan Film Zaman Batavia dan Film Populer Dalam Dan Luar Negeri)
  5. Musholla (dengan perlengkapannya sehingga anda tidak perlu khawatir kehilangan waktu untuk sholat)
  6. Ruang Pertemuan dan Pameran (ruangan yang representatif untuk kegiatan pertemuan, diskusi, seminar dan pameran dengan daya tampung lebih dari 150 orang)
  7. Taman Dalam (Taman yang asri dengan luas 1000 meter lebih, serta dapat dimanfaatkan untuk Gathering, resepsi pernikahan, Pentas Seni)
Objek wisata Museum Fatahillah memiliki konstruksi yang cantik dan menarik. Karena dibangun pada jaman dulu, nuansa jadul-nya sangat terasa. Arsitektur bangunannya memiliki konsep barok klasik yang populer pada abad ke-17. Di dalam bangunan ini terdapat 3 lantai. Semua bagian kusen pintu dan jendela memiliki warna hijau tua, yang dibuat dari kayu jati. Berkeliling di sekitar museum akan memberikan anda atmosfir baru. Pemandangan di sekitar Museum Fatahillah sangat indah, dan sebuah kolam turut melengkapi keindahan tersebut. Nah, bagi yang anda yang ingin berkunjung ke tempat ini, jangan lupa membawa kamera. Setiap momen sangat berharga untuk diabadikan. Bagian depan bangunan adalah tempat favorit bagi para wisatawan untuk berfoto. Mungkin anda ingin memakainya untuk foto pranikah? karena bentuk bangunan ini sangat spesial dan sangat langka di jaman modern seperti sekarang.
Wisata Sejarah ke Museum Fatahillah Jakarta 3
Masuk ke dalam objek wisata Museum Fatahillah, anda akan menemukan sekitar 25 ribu koleksi benda bersejarah. Diantara koleksi tersebut terdapat peninggalan Kerajaan Tarumanegara dan pedagang Eropa jaman dulu. Peninggalan bersejarah yang bisa anda temukan di dalam Museum adalah Prasasti Ciaruteun, Patung Dewa Hermes, Meriam si Jagur, dan Mimbar Masjid Kampung Baru, Selain itu ada sebuah air mancur yang dulunya difungsikan sebagai sumber mata air. Benda-benda seperti keramik, gerabah, dan peninggalan khas ada betawi juga banyak terdapat disini. Tidak hanya benda-benda antik dan langka, namun dalam museum ini anda juga bisa menemukan sekitar 1200 buku bersejarah. Dari sekian koleksi, sebagian besar adalah buku dari jaman kolonial, sebab itu banyak yang memakai bahasa Inggris, Melayu, Prancis, dan ada beberapa berbahasa Arab.
Wisata Sejarah ke Museum Fatahillah Jakarta 4
Wisata sejarah tidak selamanya membosankan. Di sekitar objek wisata Museum Fatahillah anda bisa bersantai bersama keluarga. Disana terdapat kafe yang didesain mirip Jakarta tempo dulu. Anda bisa beristirahat sejenak disana sambil menikmati atmosfir kehidupan jaman dulu. Tidak hanya dari bangunannya saja yang bernuansa jadul, namun anda juga bisa menikmati makanan tradisional khas seperti kerak telor, rujak bebek, dan es potong. Sembari makan anda akan diiringi dengan musik klasik sehingga semakin memperkuat atmosfir jadul dari tempat tersebut. Beberapa menu yang bisa anda coba antara lain Lobster Thermidor, Batavia's Meat, Seafood Grill, ayam cabe keriting, bebek peking, ikan kerapu, gado-gado, dan makanan tradisional lainnya.Tempat lain yang bisa anda kunjungi di seputaran Museum Fatahillah adalah toko souvenir, mushola, aula, ruang rapat, dan taman. Jika ingin berkunjung, Museum ini dibuka setiap Selasa-Minggu, dari pukul 9.00 hingga 15.00 WIB. Sedangkan hari-hari lain Museum ini ditutup.

Disadur dari berbagai sumber.

Candi Borobudur, Objek Wisata Yang Mendunia

Sunday, May 26, 2013

Candi Borobudur adalah candi terbesar peninggalan sejarah bangsa ini. Candi ini terlihat begitu impresif dan kokoh sehingga terkenal seantero dunia. Peninggalan sejarah yang bernilai tinggi ini sempat menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Namun tahukah Anda bahwa seperti halnya pada bangunan purbakala yang lain, Candi Borobudur tak luput dari misteri mengenai cara pembuatannya? Misteri ini banyak melahirkan pendapat yang spekulatif hingga kontroversi. Dengan beberapa catatan dan referensi yang terbatas, saya coba menganalisis dan sedikit menguak tabir misteri pembuatan candi ini yang ternyata tidak perlu di-misteri-kan!
Borobudur adalah candi Budha terbesar di abad ke-9 yang berukuran 123 x 123 meter. Candi Borobudur selesai dibangun berabad-abad sebelum Angkor Wat di Kamboja. Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages ini. Tak mengherankan, sebab secara arsitektural maupun fungsinya sebagai tempat ibadah, Borobudur memang memikat hati. Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat. 
Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa stupa Budha yang menghadap ke arah barat. Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut.
Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra. Berdasarkan prasasti Kayumwungan, seorang Indonesia bernama Hudaya Kandahjaya mengungkapkan bahwa Borobudur adalah sebuah tempat ibadah yang selesai dibangun 26 Mei 824, hampir seratus tahun sejak masa awal dibangun. Nama Borobudur sendiri menurut beberapa orang berarti sebuah gunung yang berteras-teras (budhara), sementara beberapa yang lain mengatakan Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi.
Bagian dasar Borobudur, disebut Kamadhatu, melambangkan manusia yang masih terikat nafsu. Empat tingkat di atasnya disebut Rupadhatu melambangkan manusia yang telah dapat membebaskan diri dari nafsu namun masih terikat rupa dan bentuk. Pada tingkat tersebut, patung Budha diletakkan terbuka. Sementara, tiga tingkat di atasnya dimana Budha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang disebut Arupadhatu, melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk. Bagian paling atas yang disebut Arupa melambangkan nirwana, tempat Budha bersemayam.
Setiap tingkatan memiliki relief-relief indah yang menunjukkan betapa mahir pembuatnya. Relief itu akan terbaca secara runtut bila anda berjalan searah jarum jam (arah kiri dari pintu masuk candi). Pada reliefnya Borobudur bercerita tentang suatu kisah yang sangat melegenda, yaitu Ramayana. Selain itu, terdapat pula relief yang menggambarkan kondisi masyarakat saat itu. Misalnya, relief tentang aktivitas petani yang mencerminkan tentang kemajuan sistem pertanian saat itu dan relief kapal layar merupakan representasi dari kemajuan pelayaran yang waktu itu berpusat di Bergotta (Semarang).
Keseluruhan relief yang ada di candi Borobudur mencerminkan ajaran sang Budha. Karenanya, candi ini dapat dijadikan media edukasi bagi orang-orang yang ingin mempelajari ajaran Budha. YogYES mengajak anda untuk mengelilingi setiap lorong-lorong sempit di Borobudur agar dapat mengerti filosofi agama Budha. Atisha, seorang budhis asal India pada abad ke 10, pernah berkunjung ke candi yang dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat di Kamboja dan 4 abad sebelum Katedral Agung di Eropa ini.
Candi Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, sekitar 40 km sebelah barat laut Jogjakarta, 7 km arah selatan Kota Magelang, dan 100 km sebelah barat daya Semarang.
Harga tiket masuk Taman Wisata Candi Borobudur dibedakan menjadi tiga, yakni:
1. Pengunjung domestik Rp 10.000,00/orang
2. Pengunjung mancanegara 12 US$/orang
3. Anak usia di bawah 12 tahun mendapatkan potongan 50%
(data hingga Januari 2009)
Waktu buka:
Senin – Minggu pukul 07.00 – 18.00
(Monday – Sunday from 07:00am to 06:00pm)

Disadur dari berbagai sumber.

Wisata Tugu Khatulistiwa Pontianak

Friday, May 24, 2013
 
Berkunjung ke pontianak tak lengkap jika anda tidak mengunjungi tugu khatulistiwa, monumen tugu khatulistiwa sendiri adalah sebuah tonggak tugu bangunan yang menandakan lokasi titik sempurna ekuator dari lintasan matahari. Untuk sejarahnya sendiri perencanaan pembangunan dari tugu ini telah lama didirikan, setidaknya telah dibangun pondasi awal pada masa hindia belanda, dimana pada saat itu  beberapa disiplin ilmu dari belanda mengadakan penelitian dan menentukan tepat dan dimana lokasi titik ekuator itu berada, setelah pada tahun 1928 dimana awal bangunan pertama didirikan untuk sebagai penanda yang berupa sebuah tugu dengan anak panah satu arah.
Hingga sekarang fisik dari bangunan telah mengalami sebanyak tiga kali penyempurnaan, dengan inti dari tugu asli yang dilindungi dengan monumen yang menyerupai tugu dimana monumen ini mempunyai tinggi lima kali fisik tugu khatulistiwa yang asli. Bagi yang belum tahu Tugu Pontianak, tugu ini dibangun karena di lokasi tugu ini merupakan titik 0 derajat. Ingatkan waktu masih sekolah, bumi ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu belahan bumi utara dan belahan bumi selatan, dan tepat di tugu ini adalah di tengah-tengah.
Peristiwa yang ditunggu-tunggu di tugu khatulistiwa ini adalah terjadinya titik kulminasi matahari. Yaitu saat matahari berada tepat di garis khatulistiwa sehingga bayang-bayang benda yang ada di sekitar tugu ini akan menghilang. Dan bayangan tugu inipun juga menghilang pula.            
Peristiwa yang ditunggu-tunggu di tugu khatulistiwa ini adalah terjadinya titik kulminasi matahari. Yaitu saat matahari berada tepat di garis khatulistiwa sehingga bayang-bayang benda yang ada di sekitar tugu ini akan menghilang. Dan bayangan tugu inipun juga menghilang pula.
Peristiwa titik kulminasi matahari ini terjadi 2 kali dalam setahun yaitu pada tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Peristiwa ini menjadi event tahunan bagi para wisatawan dan biasanya akan dibarengi juga dengan perayaan adat budaya disana. 
                  
 Disadur dari berbagai sumber.

(Wisata Sejarah) Empat Candi Bersejarah di Jawa Timur

Tuesday, May 21, 2013


Salah bentuk wisata sejarah selain berkunjung ke museum adalah wisata candi. Wisata candi merupakan salah satu bentuk wisata sejarah yang menarik, karena dengan mengunjungi candi Anda akan mengetahui bagaimana arsitektur nenek moyang kita pada zaman dahulu. Selain itu tentu dengan mengunjungi candi ilmu pengetahuan sejarah Anda akan semakin bagus. Bagi Anda yang ingin mengajarkan kebaikan dan budi lurur pada anak Anda, ajaklah mereka untuk mengunjungi candi. Salah satu provinsi yang memiliki banyak candi adalah Jawa Timur.
Candi Jawa Timur tidak seperti candi di Jawa Tengah yang berukuran besar, luas, dan bertingkat. Candi Jawa Timur memiliki bentuk yang lebih artistik. Hal ini dikarenakan oleh candi Jawa timur lebih muda dari candi Jawa Tengah, jadi pengetahuan masyarakat akan seni tentu lebih baik dibanding ketika mereka membangun candi di Jawa Tengah. Kaki candi Jawa Timur umumnya bertingkat dan lebih tinggi. Selain itu candi Jawa timur memiliki tubuh lebih ramping dengan bentuk atap bertingkat mengecil dan di puncaknya berbentuk kubus. Apa saja candi di Jawa Timur? Berikut ulasannya:

1. Candi Badut
Candi ini berjarak kurang lebih 5km dari kota Malang. Candi yang memiliki nama lain candi Liswa ini ditemukan tahun 1923 oleh para arkeolog Belanda. Candi ini adalah candi tertua di wilayah Jawa Timur. Candi ini memiliki relief yang mirip dengan candi di Jawa Tengah. Hal ini dikarenakan oleh Candi Badhut dibangun tidak berapa setelah kerajaan Mataram pindah ke Jawa Timur, jadi pengetahuan seni mereka belum berkembang terlalu jauh.
candi bajangratu 

2. Candi Bajangratu
Candi ini terletak di kota Mojokerto. Masih banyak data yang belum diketahui mengenai candi ini seperti tahun pembangunan, raja yang memerintah, fungsi candi ingin dibangun, dan beberapa informasi perting lainnya. Keunikan candi ini adalah bentuknya yang menjulang tinggi dan sangat ramping. Seluruh bangunan candi dibuat dari batu bata merah. Oleh sebab itu dari kejauhan warna merah yang mencolok menjadi daya tarik tersendiri bagi candi ini.
candi brahu 

3. Candi Brahu
Candi Brahu juga terletak di daerah Mojokerto, Jawa Timur. Candi ini tidak seramping candi Bajangratu. Ketika ditemukan, di candi ini juga terdapat beraneka peralatan upacara agama Budha. Jadi dapat disimpulkan candi Brahu adalah candi agama Budha.
candi jago 

4. Candi Jago
Candi berjarak lebih kurang 22km di sebelah timur kota Malang. Candi ini cukup luas, yaitu 322 meter persegi. Sayang atap candi sudah hilang, jadi tidak bisa diketahui berapa tinggi candi yang sesungguhnya. Candi Jagho memiliki relief yang rapi dan teratur. Relief pada candi tersebar dari kaki candi sampai ke tempat teraratas yang terdapat di candi ini. Relief pada candi ini menggambarkan cerita tentang pelepasan kepergian seseorang yang telah wafat.















Disadur dari berbagai sumber.

Wisata Sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon

Saturday, May 11, 2013
Keraton Kasepuhan adalah keraton termegah dan paling terawat di Cirebon. Makna di setiap sudut arsitektur keraton ini pun terkenal paling bersejarah. Halaman depan keraton ini dikelilingi tembok bata merah dan terdapat pendopo didalamnya. Keraton Kasepuhan adalah kerajaan islam tempat para pendiri cirebon bertahta, disinilah pusat pemerintahan Kasultanan Cirebon berdiri.
Keraton ini memiliki museum yang cukup lengkap dan berisi benda pusaka dan lukisan koleksi kerajaan. Salah satu koleksi yaitu kereta Singa Barong yang merupakan kereta kencana Sunan Gunung Jati. Kereta ini saat ini tidak lagi dipergunakan dan hanya dikeluarkan pada tiap 1 Syawal untuk dimandikan. Bagian dalam keraton ini terdiri dari bangunan utama yang berwarna putih. Didalamnya terdapat ruang tamu, ruang tidur dan singgasana raja.
Pada mulanya kraton kesultanan kasepuhan merupakan bagian dari kompleks kraton yang ada di cirebon, dibangun pada awal era islam berkembang abad pertengahan 14 - 15 pada pemerintahan pangeran cakrabuawana putra dari raja padjajaran, namun sekarang kesultanan cirebon terdapat dua kraton yang masing masing mempunyai pemimpin, kesultanan kanoman dan kesultanan kasepuhan, kraton kasepuhan sendiri dipimpin oleh Arief Natadiningrat yang bergelar sultan sepuh xiv, kranton kasepuhan terbilang masih sangat terjaga orisinalitas bangunan maupun silsilah penamaan, dan tak jauh dari istana ini terdapat sebuah masjid agung sang cipta rasa yang merupakan warisan dari sunan gunung jati.
Ingin merasakan kilas balik dari salah satu peraadaban kerjaan jawa pada masa lalu? keraton kasepuhan dapat menjadi alternatif wisata sejarah yang sangat menarik, akan memberikan pengetahuan mengenai perkembangan dan penyebaran islam di jawa barat serta beragam kesenian dan benda benda sejarah lainnya.

Keistimewaan
Mengunjungi Keraton Kasepuhan seakan-akan mengunjungi Kota Cirebon tempo dulu. Keberadaan Keraton Kasepuhan juga kian mengukuhkan bahwa di kota Cirebon pernah terjadi akulturasi. Akulturasi yang terjadi tidak saja antara kebudayaan Jawa dengan kebudayaan Sunda, tapi juga dengan berbagai kebudayaan di dunia, seperti Cina,India, Arab, dan Eropa. Hal inilah yang membentuk identitas dan tipikal masyarakat Cirebon dewasa ini, yang bukan Jawa dan bukan Sunda.
Kesan tersebut sudah terasa sedari awal memasuki lokasi keraton. Keberadaan dua patung macan putih di gerbangnya, selain melambangkan bahwa Kesultanan Cirebon merupakan penerus Kerajaan Padjajaran, juga memperlihatkan pengaruh agama Hindu sebagai agama resmi Kerajaan Padjajaran. Gerbangnya yang menyerupai pura di Bali, ukiran daun pintu gapuranya yang bergaya Eropa, pagar Siti Hingilnya dari keramik Cina, dan tembok yang mengelilingi keraton terbuat dari bata merah khas arsitektur Jawa, merupakan bukti lain terjadinya akulturasi.

Lokasi
Keraton Kasepuhan terletak di Jalan Keraton Kasepuhan No. 43, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.

Akses
Dari Jakarta menuju Cirebon, pengunjung dapat menggunakan bus, travel, atau kereta api. Transportasi serupa juga dapat digunakan pengunjung yang datang dari Bandung. Sesampainya di Cirebon, pengunjung dapat naik angkutan kota atau ojek menuju lokasi keraton.

Harga Tiket
Pengunjung dipungut biaya Rp 3.000,- per orang (data tahun 2007).

Jadwal Kunjungan
• Hari Senin-Sabtu: 08.00-16.00 WIB.
• Hari Minggu/Libur: 08.00-17.00 WIB.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Di dalam lokasi keraton terdapat Masjid Agung Sang Cipta Rasa, pusat informasi pariwisata, pramuwisata, pendopo tempat istirahat, dan sekolah tari. Di luar keraton, pengunjung dapat dengan mudah menemukan kios wartel, voucher isi ulang pulsa, warung makan, serta sentra oleh-oleh dan cinderamata. Pengunjung yang ingin bermalam tidak perlu khawatir, karena di kawasan Keraton Kasepuhan terdapat wisma-wisma dan hotel-hotel dengan berbagai tipe.
Ruang Pertemuan Keraton

Disadur dari berbagai sumber.

Wisata Sejarah Goa Jepang Yang Penuh Mistik

Disebut Goa Jepang karena memang dibuat oleh tentara Jepang pada tahun 1942. Goa ini dibuat setelah Belanda menyerah dan berfungsi sebagai tempat pertahanan dari serangan sekutu. Ada 4 buah goa berukuran besar yang berjejer, serta beberapa lubang goa berukuran kecil. Antara goa yang satu dengan yang lainnya berhubungan denga lorong-lorong. Bagi anda yang bernyali mungkin tertarik untuk masuk kedalam goa yang gelap gulita. Dari Goa Jepang menuju goa Belanda dapat ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih 20 menit. Anda juga dapat langsung menuju Goa Belanda dengan kendaraan roda empat. Disebut Goa Belanda karena memang dibuat oleh Belanda pada awal tahun 1941. 
Awalnya militer Belanda membangun goa ini sebagai terowongan PLTA Bengkok. Goa ini juga menjadi jalan tembus menuju tempat wisata Maribaya di Lembang. Jarak dari Goa ke Maribaya kurang lebih 5 KM. Untuk bisa menyambangi tempat ini, pengunjung cukup membayar harga tiket masuk Rp 2000 untuk setiap orang dan Rp 5000 untuk kendaraan. Goa ini merupakan tempat bersejarah karena dibangun pada masa penjajahan Jepang dan Belanda. Untuk memudahkan perjalanan di dalam goa, Anda dapat menyewa senter-senter yang dijajakan di pintu masuk goa.
Banyaknya situs alam dan bersejarah yang bisa dikunjungi telah menarik banyak wisatawan untuk mengunjungi Taman Hutan Raya Ir. Juanda. Di sini, Anda dapat menikmati kesejukan udara yang lebih segar di kota Bandung serta fenomena alam yang indah. Untuk Anda penyuka sejarah, Anda dapat melihat tempat-tempat bersejarah yang menarik dengan suasana alami dan menyegarkan. Di goa ini terdapat empat lorong untuk masuk, dimana konon katanya lorong ke dua dan ketiga sebagai lorong jebakan. Lembab, gelap dan dingin adalah kesan awal yang langsung menerpa saat mulai melangkah ke dalam goa yang dibangun pada tahun 1942 silam. Lorong yang panjang serta berliku memang cukup membingungkan dengan jalan berbatu-batu serta dinding tanah.  
Dahulu goa ini dijadikan sebagai tempat pertahanan tentara Jepang. Selain itu, di sini terdapat beberapa gundukan tanah yang lebih tinggi dari permukaan yang dijadikan sebagai tempat istirahat/tidur para tentara yang dikenal juga dengan nama Tentara Dai Nippon. Setelah melewati persimpangan demi persimpangan, keluarlah melalui mulut goa yang berukuran lebih besar. Di lorong ini dahulu difungsikan untuk tempat parkir dan keluar-masuk kendaraan perang. Memang sebelum Pemerintah Sipil Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Tentara Jepang, goa ini dibangun sendiri oleh mereka (Jepang).
Namun setelah Belanda menyerah, pembangunan goa diteruskan oleh orang-orang pribumi melalui kerja paksa atau dikenal dengan ”Romusha”. Menurut keterangan di dalam goa ini sering terdengar suara jeritan , rintihan serta penampakan wujud orang-orang yang dulunya di siksa dan di penjarakan di goa yang lembab dan pengap ini, meski banyak terdapat lubang ventilasi udara.

Candi Prambanan, Candi Hindu Terindah di Dunia

Monday, May 6, 2013
Candi Prambanan terletak tepat di tepi jalan raya sekitar 17 km dari Yogyakarta menuju Solo, untuk itu Candi Prambanan merupakan obyek wisata andalan. Karena letaknya yang sangat strategis dan mudah di jangkau dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum.Candi Prambanan merupakan kompleks karena di kawasan ini tidak hanya terdapat satu candi, namun tiga candi dengan bangunan utama Candi Prambanan yang di bangun pada abad 9 M dengan arsitektur yang indah dan memiliki ketinggian sekitar 47 meter. 
Candi yang sejak tahun 1991 ditetapkan UNESCO sebagai cagar budaya dunia (World Wonder Heritage) ini menempati kompleks seluas 39,8 hektar. Menjulang setinggi 47 meter atau lima meter lebih tinggi dari Candi Borobudur, Candi Prambanan telihat perkasa dan kokoh. Hal ini sesuai dengan latar belakang pembangunan candi ini, yaitu ingin menunjukkan kejayaan peradaban Hindu di tanah Jawa.  
Bagi pengunjung yang ingin menuntaskan keingintahuannya terhadap seluk-beluk Candi Prambanan, pengunjung dapat menyambangi sebuah museum yang juga berada di kompleks candi. Di museum ini, pengunjung dapat menikmati audio visual tentang sejarah ditemukannya Candi Prambanan hingga proses renovasinya secara lengkap. Bagi wisatawan yang berkunjung bersama keluarga, di Candi Prambanan juga terdapat taman bermain untuk anak-anak dan kereta mini yang dapat mengantarkan pengunjung mengelilingi kawasan wisata tersebut.
Pesona keindahan yang dimiliki Candi Prambanan yang merupakan peninggalan kebudayaan Hindu terbesar di Indonesia bukan hanya dari bentuk bangunan dan tata letaknya yang menakjubkan, namun juga kisah sejarah dan legenda yang sangat unik dan menarik. Candi ini dibangun pada sekitar tahun 850 Masehi oleh salah seorang dari kedua orang ini, yakni: Rakai Pikatan, raja kedua wangsa Mataram I atau Balitung Maha Sambu, semasa wangsa Sanjaya. Candi ini kemudian ditinggalkan ketika pusat kerajaan di Jawa dipindahkan ke Jawa Timur akibat letusan dahsyat Gunung Merapi sekitar tahun 950 M. 
Kemudian pada tahun 1733, candi ini ditemukan oleh seorang Belanda bernama C. A. Lons dan mulai dibersihkan oleh Jan Willem IJzerman pada tahun 1855. Tak lama kemudian, IsaƤc Groneman melakukan pembongkaran besar-besaran dan batu-batu candi tersebut ditumpuk secara sembarangan di sepanjang Sungai Opak. Selanjutnya renovasi dilakukan oleh Theodoor van Erp dan dilanjutkan jawatan Purbakala (Oudheidkundige Dienst) di bawah P.J. Perquin dengan cara yang lebih metodis dan sistematis. Pada tahun 1926 dilanjutkan De Haan hingga akhir hayatnya. Pada tahun 1931 digantikan oleh Ir. V.R. van Romondt hingga pada tahun 1942 dan kemudian diserahkan kepemimpinan renovasi itu kepada putra Indonesia hingga tahun 1993.
Di dalam halaman masih berdiri candi-candi lain, yaitu 2 buah candi pengapit dengan ketinggian 16 meter yang saling berhadapan, yang sebuah berdiri di sebelah Utara dan yang lain berdiri di sebelah selatan, 4 buah candi kelir dan 4 buah candi sudut. Halaman dalam yang dianggap masyarakat Hindhu sebagai halaman paling sakral ini, terletak di tengah halaman tengah yang mempunyai sisi 222 meter, dan pada mulanya berisi candi-candi perwara sebanyak 224 buah berderet-deret mengelilingi halaman dalam tiga baris. Di luar halaman tengah ini masih terdapat halaman luar yang berbentuk segi empat dengan sisi sepanjang 390 meter. 
TIKET
Harga tiket masuk Candi Prambanan bagi turis lokal atau pemegang KITAS adalah 15.000 (Senin-Jumat) dan 17.500 (Sabtu-Minggu). Sedangkan untuk turis asing umum adalah 13 US$, sedangkan mahasiswa asing adalah US$ 7.   

Museum Geologi Bandung, Wisata Sejarah dan Pendidikan

Tuesday, April 16, 2013
Berdiri dengan resmi lebih dari dua-pertiga-abad tepatnya pada tahun 1928 tanggal 16 mei pada saat itu, museum ini tetap kental akan fungsinya sebagai pengetahuan tentang ilmu bumi dan pengetahuan benda purbakala, berada ditengah kota membuat tempat ini mudah untuk diakses dan menjadi satu satunya museum dengan jumlah pengunjung terbanyak yang ada di indonesia, beragam koleksi dari berbagai peninggalan purbakala yang telah mencapai 60 ribu koleksi fosil serta 250 ribu jenis jenis bebatuan (esdm:2/2/11) dapat anda lihat dan dipelajari dari literatur yang ada di sisi keterangan disetiap koleksi. Museum Geologi didirikan pada tanggal 16 Mei 1928. Museum ini telah direnovasi dengan dana bantuan dari JICA (Japan International Cooperation Agency). Setelah mengalami renovasi, Museum Geologi dibuka kembali dan diresmikan oleh Wakil Presiden RI, Megawati Soekarnoputri pada tanggal 23 Agustus 2000. Sebagai salah satu monumen bersejarah, museum berada di bawah perlindungan pemerintah dan merupakan peninggalan nasional. 
Dalam Museum ini, tersimpan dan dikelola materi-materi geologi yang berlimpah, seperti fosil, batuan, mineral. Kesemuanya itu dikumpulkan selama kerja lapangan di Indonesia sejak 1850. Masa Penjajahan Belanda Keberadaan Museum Geologi berkaitan erat dengan sejarah penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 oleh para ahli Eropa. Setelah Eropa mengalami revolusi industri pada pertengahan abad ke-18, Eropa sangat membutuhkan bahan tambang sebagai bahan dasar industri. Pemerintah Belanda sadar akan pentingnya penguasaan bahan galian di wilayah Nusantara. Melalui hal ini, diharapkan perkembangan industri di Negeri Belanda dapat ditunjang. Maka, pada tahun 1850, dibentuklah Dienst van het Mijnwezen. Kelembagaan ini berganti nama jadi Dienst van den Mijnbouw pada tahun 1922, yang bertugas melakukan penyelidikan geologi serta sumberdaya mineral. 
Hasil penyelidikan yang berupa contoh-contoh batuan, mineral, fosil, laporan dan peta memerlukan tempat untuk penganalisaan dan penyimpanan,sehingga pada tahun 1928 Dienst van den Mijnbouw membangun gedung di Rembrandt Straat Bandung. Gedung tersebut pada awalnya bernama Geologisch Laboratorium yang kemudian juga disebut Geologisch Museum. Gedung Geologisch Laboratorium dirancang dengan gaya Art Deco oleh arsitek Ir. Menalda van Schouwenburg, dan dibangun selama 11 bulan dengan 300 pekerja serta menghabiskan dana sebesar 400 Gulden. Pembangunannya dimulai pada pertengahan tahun 1928 dan diresmikan pada tanggal 16 Mei 1929. Peresmian tersebut bertepatan dengan penyelenggaraan Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-4 (Fourth Pacific Science Congress) yang diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18-24 Mei 1929.(wisatanesia). 
Nampak antik dari luar yang membuat salah satu museum ini menarik, museum geologi bandung berdiri pada sebuah bangunan peninggalan kolonial belanda kesan tempo dulu yang usang namun tetap megah, begitu terasa ketika anda disuguhkan pada eksterior wujud bangunan, bentuk memanjang dengan lantai bertingkat dua, pada setiap ruang dilengkapi pintu empat bagian pintu geser. Ketika menginjakan kaki kedalam terlihat jejeran benda benda purbakala yang tertata nampak disekat dengan kaca tebal menujukan beragam sejarah geologi purbakala dan serta fosil fosil di indonesia dan luar negeri, fosil fosil yang menarik salah satu nya dinosaurus species Tyrannosaurus rex pemakan daging dan batu batu meteorit dengan koleksi terkenal batu metorit yang pernah jatu di Jatipengilon tuban jawa timur. Tidak itu saja, anda dapat mempelajar sejarah terbentuknya alam semeta dari beberapa teori serta perkembangan bumi dari masa kemasa yang akan menambah wawasan dan kecintaan anda tentang ilmu pengetahuan geologi. 
Museum geologi bandung memberikan pengetahuan yang luar biasa mengenai sejara ilmu bumi dan pengenalan peninggalan peninggalan purbakala, museum ini merupakan harta ilmu pengetahuan, jadi betapa rugi anda warga kota jika tidak membawa serta keluarga teman teman atau anak didik anda untuk mengetahui lebih tentang sejarah bumi dan serta kehidupan peradaban masa lampau. Untuk mengunjungi museum geologi ini anda hanya di bebankan 3000 rupiah saja jika anda mahasiswa atau pelajar hanya 2000 rupiah, pada jam buka senin sampai dengan kamis pukul delapan pagi hingga tiga tiga puluh petang, dan sabtu sampai dengan minggu buka pada jam delapan pagi hingga satu tiga pulu siang serta pada hari jumat dan libur nasional tutup, informasi diatas berdasarkan sumber museum.bgl.esdm go.id pp 9 thn 2012 berlaku 1 september 2012.

Wisata ke Masa Lalu di Kota Tua, Jakarta

Sunday, April 14, 2013


Akhir pekan adalah saat yang tepat untuk berlibur. Jika tak ada waktu liburan ke luar kota, dalam kota pun masih banyak memiliki destinasi menarik. Salah satunya, Kawasan Kota Tua di Jakarta Utara. Serasa tertarik ke masa lalu! Kota Tua Jakarta yang dulunya bernama Batavia Lama (Oud Batavia) adalah sebuah wilayah kecil di tepi timur Sungai Ciliwung. Abad ke-16 para pelayar dan pedagang Eropa menjuluki tempat ini sebagai "Mutiara dari Timur" dan "Ratu dari Timur" dimana dikaitkan keindahan kota ini yang mirip seperti Amsterdam dan juga sebagai pusat perdagangan di Benua Asia. Kompleks museum dan bangunan tua berkumpul di area seluas 1,3 km persegi. Menurut Kepala Kantor Pengelola Kota Tua, Ghatut, dulunya bangunan di sini dibangun semirip mungkin dengan bangunan Belanda untuk mengobati rasa rindu para orang Belanda yang sedang menjajah di Batavia. Bertahun setelah kemerdekaan, kawasan ini dijadikan cagar budaya karena nilai dan bentuk bangunannya yang merupakan sisa masa lalu. Karena keunikannya inilah, banyak wisatawan yang datang dan menghabiskan liburan di sini.  

Museum yang wajib didatangi saat berlibur ke sana adalah Museum Sejarah Jakarta atau yang lebih dikenal dengan Museum Fatahilah. Arsitekturnya mirip dengan Istana Dam di Amsterdam, Belanda. Di dalam museum seluas 1.300 meter persegi ini Anda bisa menyaksikan ruang pengadilan dan ruang-ruang bawah tanah yang dulu pernah dipakai sebagai penjara. Lapangan besar di depannya juga jadi area bermain bagi banyak wisatawan. Mulai dari naik sepeda onthel sampai piknik santai di bawah pohon rindangnya. Tak jauh dari Museum Fatahilah, ada Museum Wayang. Museum yang sudah beberapa kali direnovasi ini tetap memiliki nafas kuno yang akan menghipnotis Anda. Tunggu sampai mengunjungi taman belakangnya yang berisi belasan prasasti nisan milik orang Belanda. Bisa-bisa Anda merasa sedang di rumah kuno Belanda. 
Kota Tua Batavia merupakan tempat favorit para pecinta sejarah dan budaya. Kawasan ini juga sangat digemari fotografer yang ingin melatari fotonya dengan arsitektur bangunan tempo dulu. Langkahkan kaki Anda berkeliling Kota Tua atau menyewa sepeda tua ala meneer dan mevrouw Belanda. Di Kota Tua Bataviaada 6 lokasi bersejarah yang dapat Anda telusuri. Mulailah dari Pelabuhan Sunda Kelapa, kemudian lanjutkan menuju tiga bangunan utama di jantung Kota Tua yang sekarang menjadi beberapa museum, yaitu: Museum Fatahillah, Museum Wayang, dan Museum Seni Rupa. Tiga sisanya adalah Museum Mandiri, dan Stasiun Kereta Api Kota. 
Apabila Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang Kota Tua maka jangan ragu langkahkan kaki mengunjungi Museum Fatahillah. Di sini Anda dapat menelusuri jejak sejarah Jakarta dari masa prasejarah hingga berdirinya kota Jayakarta. Gedung ini selain berfungsi sebagai kantor juga memiliki ruang pengadilandan penjara bawah tanah yang dilengkapi rantai dengan bola pemberat untuk tahanan. Sempatkan menyambangi Menara Syahbandar (Uitkijk Post). Dari sini Anda dapat menerawang Kota Tua melalui ketinggian. Dulunya, menara tersebut berfungsi untuk mengawasi dan memandu kapal yang masuk ke pelabuhan. 
Menara Syahbandar juga menjadi titik 0 atau kilometer 0 Kota Jakarta sebelum dipindahkan ke Monumen Nasional (Monas) tahun 1980-an. Perhatikan seksama, ada keunikan dari menara ini yang posisinya miring beberapa derajat dari garis vertikal. Bangunan-bangunan yang ada di sini sungguh akan membuat Anda serasa di masa lampau. Sepeda onthel, jendela-jendela kuno, genting bangunan dengan menara kecil di ujungnya, semua semakin menguatkan suasana masa lalu. Yuk ke Kota Tua akhir pekan ini!

Keraton Kanoman Cirebon

Sunday, February 17, 2013

Jika anda tertarik dengan wisata sejarah, coba tempat yang satu ini. Wisata Keraton Kanoman Cirebon, adalah pusat peradaban Kesultanan Cirebon, yang kemudian terpecah menjadi Keraton Kanoman, Keraton Kasepuhan, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Keprabon. Kebesaran Islam di Jawa Barat tidak lepas dari Cirebon. Sunan Gunung Jati adalah orang yang bertanggung Jawab menyebarkan agama Islam di Jawa Barat, sehingga berbicara tentang Cirebon tidak akan lepas dari sosok Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati juga meninggalkan jejaknya yang hingga kini masih berdiri tegak, jejak itu bernama Kraton Kanoman. Keraton Kanoman masih taat memegang adat-istiadat dan pepakem, di antaranya melaksanakan tradisi Grebeg Syawal,seminggu setelah Idul Fitri dan berziarah ke makam leluhur, Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Cirebon Utara. Peninggalan-peninggalan bersejarah di Keraton Kanoman erat kaitannya dengan syiar agama Islam yang giat dilakukan Sunan Gunung Jati, yang juga dikenal dengan Syarif Hidayatullah.  
Kompleks Keraton Kanoman yang mempunyai luas sekitar 6 hektar ini berlokasi di belakang pasar Di Kraton ini tinggal sultan ke dua belas yang bernama raja Muhammad Emiruddin berserta keluarga. Kraton Kanoman merupakan komplek yang luas, yang terdiri dari dua puluh tujuh bangunan kuno. salah satunya saung yang bernama bangsal witana yang merupakan cikal bakal Kraton yang luasnya hampir lima kali lapangan sepakbola. Di keraton ini masih terdapat barang barang Sunan Gunung Jati, seperti dua kereta bernama Paksi Naga Liman dan Jempana yang masih terawat baik dan tersimpan di museum. Bentuknya burak, yakni hewan yang dikendarai Nabi Muhammad ketika ia Isra Mi’raj. Tidak jauh dari kereta, terdapat bangsal Jinem, atau Pendopo untuk Menerima tamu, penobatan sultan dan pemberian restu sebuah acara seperti Maulid Nabi. Dan di bagian tengah Kraton terdapat komplek bangunan bangunan bernama Siti Hinggil. 
Keraton Kanoman berada di Jl. Winaon, Kampung Kanoman, Kelurahan Lemah Wungkuk, Kecamatan Lemah Wungkuk tepatnya terletak tepat dibelakang pasar Kraton dengan luas kurang lebih 6 hektar, merupakan sebuah tempat yang dibangun lebih dari dua puluh tujuh bangunan kuno bersejarah yang hingga kini masih berdiri kokok, walaupun masih ada beberapa bangunan yang perlu untuk direnovasi. Bila anda masuk ke dalam Keraton Kanoman, anda pasti akan melihat berbagai macam barang-barang peninggalan Sunan Gunung Jati yang masih terawat sampai kini. Barang-barang tersebut seperti Paksi Naga Lima merupakan kereta yang sering digunakan Sunan Gunung Jati, dan Jempana sebuah benda berbentuk Burok merupakan hewan yang pernah digunakan oleh Nabi Muhammad ketika Isra Mi’raj. 
Hal yang menarik dari Wisata Keraton Kanoman Cirebon adalah adanya piring-piring porselen asli Tiongkok yang menjadi penghias dinding semua keraton di Cirebon. Tak cuma di keraton, piring-piring keramik itu bertebaran hampir di seluruh situs bersejarah di Cirebon. Dan yang tidak kalah penting dari Keraton di Cirebon adalah keraton selalu menghadap ke utara. Dan di halamannya ada patung macan sebagai lambang Prabu Siliwangi. Di depan keraton selalu ada alun alun untuk rakyat berkumpul dan pasar sebagai pusat perekonomian, di sebelah timur keraton selalu ada masjid. 

Sumber : http://www.cirebonesia.net
 

Pariwisata Indonesia Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger