Showing posts with label Island Tourism. Show all posts
Showing posts with label Island Tourism. Show all posts

7 Tempat Wisata di Sumbawa Yang Eksotik

Sunday, September 13, 2015

Beberapa orang kerap keliru saat membedakan Sumba dan Sumbawa. Sumba dan Sumbawa itu berbeda, lho! (Hayo, kita ingat-ingat lagi pelajaran IPS jaman SD dulu! Hohoho). Sumba atau Pulau Sumba adalah sebuah pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sedangkan Sumbawa adalah sebuah pulau yang terletak di Nusa Tenggara Barat. Dengan keindahan alamnya yang memukau, Sumbawa menyimpan potensi wisata yang seru dan menyenangkan. Berikut 7 obyek wisata di Sumbawa yang bisa Anda kunjungi:

1. Dalam Loka (The Old Palace)

Istana Tua Dalam Loka
Istana Tua Dalam Loka
Istana Tua Dalam Loka (The Old Palace) didirikan pada tahun 1885 M pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III. Istana yang terbuat dari kayu ini tercatat sebagai rumah panggung terbesar di dunia. Kayu jati besar yang digunakan untuk membangun istana ini berasal dari hutan jati di pelosok desa sekitar istana. Sementara seng untuk atapnya didatangkan dari Singapura. Bangunan istana ini sarat akan pesan filosofis ‘adat barenti ko syara’, syara’ barenti ko kitabullah’. Artinya adalah bahwa semua aturan adat istiadat maupun nilai-nilai dalam sendi kehidupan harus bersemangatkan syariat Islam. Saat ini Istana Tua Dalam Loka digunakan sebagai Museum Daerah Sumbawa. Istana Tua Dalam Loka ini terletak di pusat kota Sumbawa. Anda dapat menggunakan kendaraan umum untuk pergi ke sana.

2. Bala Kuning (The Yellow House)

Bala Kuning
Bala Kuning
bagian dalam Bala Kuning
bagian dalam Bala Kuning
Bala Kuning merupakan rumah tempat tinggal keluarga Sultan Sumbawa (saat ini menjadi tempat tinggal Sultan Muhammad Kaharuddin IV yang dinobatkan sebagai Sultan Sumbawa ke 17 pada 5 April 2011). Sesuai dengan namanya, Bala Kuning yang dibangun sekitar tahun 1784 ini memiliki ornamen warna kuning. Di Bala Kuning, Anda dapat menjumpai berbagai benda pusaka Kesultanan Sumbawa, seperti mahkota, bodong, sarpedang, payung kamutar, tear (tombak /lembing), keris, pakaian kebesaran sultan dan aneka macam pusaka lainnya. Di Bala Kuning juga terdapat Al Qur’an ukuran besar tulisan tangan karya Muhammad Ibnu Abdullah Al Jawi yang dibuat pada sekitar tahun 1784. Bala Kuning berlokasi di Jl Dr Wahidin, Sumbawa Besar.

3. Pantai Kencana

Pantai Kencana
Pantai Kencana
Indonesia Timur sangat dikenal akan keindahan pantainya. Maka jangan lupa untuk menengok Pantai Kencana. Pantai Kencana terletak 11 km dari Sumbawa Besar, kira-kira Anda hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 15 menit dari pusat kota untuk sampai ke Pantai Kencana. Pantai Kencana memiliki garis pantai yang melengkung di mana kedua ujungnya memiliki warna tersendiri. Di lengkungan sebelah kanan terdapat batu karang yang senantiasa dihempas ombak. Pasirnya putih bersih dan air lautnya biru. Pantai Kencana ini sudah memiliki berbagai fasilitas, seperti hotel dan cottage yang bentuknya mirip bangunan khas daerah Sumbawa.

4. Desa Poto

Tenun Sumbawa
Tenun Sumbawa
Salah satu obyek wisata di Sumbawa adalah desa wisata Poto. Desa wisata Poto terletak di Kecamatan Moyo Hilir, sekitar 13 km dari kota Sumbawa Besar. Anda dapat mencapai Desa Poto ini dengan menggunakan jalur darat dengan kendaraan umum. Desa Poto ini masih sangat menjaga kelestarian budaya daerahnya. Anda dapat melihat pembuatan tenun Sumbawa, pembuatan gerabah, dan berbagai atraksi permainan rakyat seperti pacuan kuda dan karapan kerbau. Namun, pacuan kuda dan karapan kerbau hanya dapat Anda jumpai saat masa sehabis panen. Klikers jangan lupa untuk membeli tenunan Sumbawa yang sangat terkenal ini.

5. Pulau Moyo

Pulau Moyo
Pulau Moyo
Pantai Ai Manis
Pantai Ai Manis
Air Terjun Mata Jitu (Queen Waterfall)
Air Terjun Mata Jitu (Queen Waterfall)
Sejauh ini, tempat wisata di Sumbawa yang paling dikenal mungkin adalah Pulau Moyo. Pulau Moyo ini sangat terkenal karena alm. Lady Di pernah berkunjung ke pulau ini. Daya tarik yang dimiliki Pulau Moyo antara lain adalah keindahan alam bawah lautnya. Sembari snorkeling atau diving, Anda dapat menikmati keindahan terumbu karang dan ikan-ikan tropis yang cantik. Anda juga dapat menjumpai hiu putih dan ikan pari. Sementara di darat, dua per tiga dari Pulau Moyo merupakan cagar alam yang menjadi habitat kawanan rusa, sapi liar, babi hutan dan burung gosong (megapodius). Saat di Pulau Moyo, sempatkanlah untuk berkunjung ke Air Terjun Mata Jitu. Air terjun yang juga dikenal dengan sebutan Queen Waterfall ini pernah dikunjungi oleh Lady Di. Di Pulau Moyo, sempatkan juga untuk melihat sunset di Pantai Ai Manis yang memiliki hamparan pasir putih nan indah. Untuk menuju Pulau Moyo, Anda dapat menyebrang dengan kapal dari Pantai Kencana dengan waktu tempuh sekitar 2 jam.

6. Pantai Sili dan Maci

Pantai Sili- Maci
Pantai Sili- Maci
Pantai Sili dan Maci berlokasi di Dusun Teloi, Desa Mata, Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa. Dua pantai ini letaknya memang sangat berdekatan sehingga lebih sering disebut sebagai Pantai Sili – Maci. Pantai ini dikenal memiliki gulungan ombak yang besar dan panjang sehingga pantai ini menjadi salah satu tujuan surfing. Konon, Pantai Sili – Maci ini memiliki keganasan ombak terbaik ketiga di dunia setelah Hawaii dan Tahiti. Sayangnya, akses menuju Pantai Sili dan Maci ini masih sulit. Hal ini pulalah yang menyebabkan Pantai Sili dan Maci kalah pamor dibandingkan Pantai Lakey (Kabupaten Dompu) dan Pantai Jelenga (Kabupaten Sumbawa Barat). Untuk sampai ke Pantai Sili dan Maci, Anda harus menempuh perjalanan darat sekitar 6 jam. Saat ini Pantai Sili dan Maci mulai melengkapi diri dengan hotel dan penginapan.

7. Liang Petang

Gua Liang Petang
Gua Liang Petang
Bagian dalam Gua Liang Petang
Bagian dalam Gua Liang Petang
Bagi Anda yang takut gelap, obyek wisata di Sumbawa yang satu ini mungkin agak menakutkan bagi Anda. Hehehe. Liang Petang merupakan perpaduan kata “liang” yang artinya gua dan “petang” yang artinya gelap. Gua Liang Petang ini memang sangat gelap sehingga Anda wajib untuk membawa senter jika ingin melihat-lihat keindahan di dalam gua. Selain melihat kecantikan stalaktit dan stalakmit, di Gua Liang Petang ini kita juga dapat melihat tempat yang dikhususkan untuk bertapa, batu yang bentuknya seperti makam, batu berbentuk manusia, balai-balai (pantar) dan juga alat tenun. Gua Liang Petang terletak di Desa Batu Tering Kecamatan Moyo Hulu, sekitar 29 km dari Sumbawa Besar.
Nah, setelah membaca 7 obyek wisata di Sumbawa ini, saya rasa Klikers akan tertarik untuk memasukkan Sumbawa sebagai salah satu destinasi wisata Anda di tahun 2015 ini. Jika Anda berkunjung ke Bali, sudah lebih mudah untuk meneruskan ke Sumbawa. Dari Bali, Anda bisa lanjut ke Lombok, setelah itu melanjutkan perjalanan selama 6-7 jam ke Sumbawa Besar. Anda juga dapat menggunakan jalur udara, namun tidak setiap hari ada penerbangan ke Sumbawa. Yuk, kita liburan ke Sumbawa!

Sumber : http://www.klikhotel.com

Pulau Samosir Tujuan Wisata Yang Menarik

Sunday, June 2, 2013
Pulau Samosir adalah sebuah pulau vulkanik di tengah Danau Toba di provinsi Sumatera Utara. Sebuah pulau di dalam pulau Sumatera di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut seluas 630 km2. Terletak dalam wilayah Kabupaten Samosir yang baru dimekarkan pada 2003 dari bekas kabupaten Toba-Samosir dengan Pangururan sebagai ibu kota kabupaten. Dikelilingi kaldera terluas di dunia yang terbentuk hasil meletusnya supervulcano raksasa, Gunung Toba sekitar 74.000 tahun lalu. Para ahli geologi memperkirakan pada masa ini pula munculnya Pulau Samosir dari dasar Danau Toba hingga kini berada tepat di tengah-tengah Danau Toba.
Gunung Toba yang berada di bawah dasar Danau Toba sewaktu-waktu diperkirakan dapat meletus. Gunung Toba sampai saat ini masih memiliki anak, bahkan Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak  merupakan anak dari Gunung Toba.
Pulau Samosir tercatat sebagai peringkat 5 dunia pulau terbesar di tengah danau. Semakin unik lagi karena pulau di tengah Danau Toba ini memiliki dua danau diatasnya yakni Danau Aek Natonang di Desa Tanjungan dan Danau Sidihoni dengan Pulo Pearung di tengahnya terdapat di Huta Panrnakohan Lumban Suhi.
Nelayan Toba
Konon sebelum masa penjajahan Hindia Belanda, Pulau Samosir menyatu dengan daratan Sumatera dan pada masa itu belum ada kata pulau tetapi hanya Samosir. Sekitar 1905 Pemerintah Hindia Belanda masa pemerintahan Ratu Willhelmina, memerintahkan kepada Tentara Belanda yang ada di Sumatera Utara untuk melakukan kerja paksa menggali tanah sepanjang 1.5 km dari ujung lokasi Tajur sampai dengan Sitanggang Bau. Kurang lebih 3 tahun kerja paksa yang memilukan terhadap sebagian suku Batak yang mendiami Samosir dan wilayah sekitar Danau Toba akhirnya menghubungkan Danau Toba sebelah Utara dan sebelah Selatan. Dan tidak ada lagi daratan yang menghubungkan Samosir dengan  Sumatera. Munculah kata sebutan baru yaitu Tano Ponggol sebagai sebutan hasil kerja paksa atau rodi (istilah lokal) dan Samosir menjadi Pulau Samosir yang dikelilingi Danau Toba, dihubungkan jembatan dengan daratan Pulau Sumatera dinamakan Jembatan Tano Ponggol. Tano Ponggol diresmikan pada tahun 1913 oleh Ratu Willhelmina dari Kerajaan Belanda.
Tidak dijelaskan apa yang menjadi latarbelakang pengerjaan Tano Ponggol saat itu. Namun mungkin, salah satu dugaan kemungkinan adalah penggalian kanal Tano Ponggol akan mirip dengan alasanembangunan terusan Suez atau Panama. Suasana tenang dan udara bersih yang sejuk dengan pemandangan yang luar biasa indahnya serta terdapat banyak sekali lokasi wisata alam, wisata sejarah dan wisata seni dan budaya yang tersebar di Sembilan kecamatan di Kabupaten Samosir membuat wisatawan tak cukup hanya sekali berkunjung ke Pulau Samosir. Masing-masing kecamatan memiliki daya tarik wisata sendiri-sendiri.


Pemandangan Danau Toba
Pecinta wisata budaya dan sejarah bisa mengunjungi Makam Raja Sidabutar, Batu Parsidangan, dan Museum Huta Bolon. Anda bisa mengenal lebih dalam mengenai budaya Batak di sebuah kampung tua di Samosir. Bisa juga dengan menonton pertunjukan Sigale-gale di Tomok. Kini Pulau Samosir tidak lagi bertumpu pada Kota kecil Tomok dan Tuktuk seperti yang orang tahu selama ini. Sungguh banyak objek-objek wisata yang bisa ditemui dan dinikmati di Pulau Samosir.
Ada empat akses yang bisa dipilih untuk perjalanan menuju Pulau Samosir yang berjarak 176 km dari Kota Medan dengan waktu tempuh rata-rata 4 jam. Tiga akses dengan melintasi Danau Toba, satu akses melalui jalan darat. Paling tenar masuk Pulau Samosir melalui Pelabuhan Ajibata di Prapat menuju Pelabuhan Tomok di Samosir dengan 45 menit menumpangi kapal feri. Kapal feri ini dapat mengangkut kendaraan roda empat. Akses lainnya adalah Simanindo-Tigaras. Pelabuhan Simanindo berada di Samosir, sementara Tigaras berada di Simalungun. Dapat juga melalui Pelabuhan Muara di Tapanuli Utara menyeberang dengan feri ke Nainggolan di Samosir. Satu-satunya jalur darat melalui Jalan Tele yang menghubungkan Samosir dengan Kabupaten Humbang Hasundutan dengan melintasi Jembatan Tano Ponggol buatan kolonial Belanda.
Pulau Samosir diyakini sebagai daerah asal orang Batak. Pasalnya, di Pulau berpenduduk sekitar 131.000 jiwa ini tepatnya di Pusuk Buhit Kecamatan Sianjur Mulamula merupakan perkampungan pertama kelompok masyarakat Batak. Di desa ini terdapat cagar budaya berupa miniature Rumah Si Raja Batak.

Disadur Dari Berbagai Sumber

Wisata Taman Nasional Pulau Komodo NTT

Saturday, May 25, 2013
 
Terletak di ujung barat Provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya diantara Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat dan Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Pulau ini dikembangkan oleh pemerintah pusat sebagai Taman Nasional Komodo. Lebih tepatnya pulau ini sebagai habitat asli dari komodo, di pulau ini terdapat 2500 ekor komodo, selain komodo pulau ini juga memiliki kekayaan flora yang beraneka ragam seperti kayu sepang yang digunakan oleh warga sekitar sebagai pewarna pakaian ataupun pohon nitak yang dipercaya bisa sebagai obat yang bijinya gurih dan enak seperti kacang polong. Tahun 2009, Taman Nasional Komodo dinobatkan menjadi finalis "New Seven Wonders of Nature".
Mayoritas orang-orang yang tinggal di Pulau Komodo dan sekitarnya adalah Nelayan yang berasal dari Bima ( Sumbawa ), Manggara, Flores Selatan, Sulawesi Selatan yang berasal dari suku Bajau Bugis. Suku Bajau awalnya suku yang hidup sebagai pengembara yang senang berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lainya. Taman Nasional Pulau Komodo di temukan sekitar tahun 1980 dan telah di nyatakan salah satu bagian dunia yang perlu di lindungi dan biosphere reserve oleh badan UNESCO pada tahun 1986. 
Taman Nasional ini awalnya di bentuk dengan tujuan untuk melesatarikan spesies Naga yang unik dan langka ( Komodo ) yang di kenal dengan bahasa ilmiahnya Varanus Komodoensis yang di temukan pertama kali oleh JKH Van Steyn sekitar tahun 1911. Setelah itu bukan hanya Naga Komodo yang di lindungi tapi semua keanekaragaman hayati baik laut dan darat masuk dalam wilayah konservasi Taman Nasional Pulau Komodo.
Dan Pulau ini juga memiliki kekhasan tersendiri dengan savana dan keindahan alam bawah lautnya, di pulau ini banyak hal yang bisa kamu nikmati antara lain, jika kamu hobi hiking di sini tempat yang paling tepat untuk hobi kamu, kamu juga bisa camping atau hanya sekedar mengamati satwa yang ada di sana. Sedangkan untuk wisata airnya banyak hal yang bisa kamu lakukan seperti memancing, diving, snorkling, kano atau hanya berkeliling dengan menggunakan sampan. Pulau Komodo sangat tepat bagi kamu yang menyukai wisata alam.
Selain itu masih banyak daya tarik untuk pulau ini yang wajib dikunjungi, antara lain:
  • Satu-satunya pulau di dunia yang memiliki kadal terbesar yaitu komodo
  • Pada perairan di pulau ini terdapat perairan bawah air
  • Dasar laut perairan komodo merupakan dasar laut terbaik di dunia
  • Di permukaan laut banyak terdapat dataran kering yang berbentuk karang
Sebagai salah satu objek wisata andalan Indonesia, Pulau Komodo menyediakan akomodasi mulai dari pondokan yang didirikan masyarakat setempat sampai resort bertaraf internasional. Bagi wisatawan domestik, Anda dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp. 75.000, sedangkan wisatawan asing sebesar US$ 15. Untuk mencapai Pulau Komodo, Anda dapat melalui rute pesawat dari Kupang (ibukota Nusa Tenggara Timur-NTT) ke kota Ende di Pulau Flores. Berikutnya perjalanan dilanjutkan dengan minibus ke Labuhanbajo yang memakan waktu 10 jam. Dari Labuhanbajo, speedboat akan membawa Anda ke Pulau Komodo setelah menempuh penyeberangan selama 2 jam. Beberapa rute lainnya dapat Anda tempuh dengan penerbangan dari Bali sesuai maskapai penerbangan yang melayani tujuan ke NTT. Berbagai paket wisata yang ditawarkan agen wisata rasanya cukup menarik untuk dicoba bagi Anda yang baru pertama kali mendatangi Pulau Komodo ini.

Disadur dari berbagai sumber.

4 Dermaga Yang Indah di Raja Ampat

Monday, May 20, 2013

Ada 4 dermaga yang sangat indah di Raja Ampat jika kamu pergi ke dermaga ini maka kamu bisa melihat keindahan dasar lau langsung dari atas dermaga tadi. Siapa yang tidak kenal Raja Ampat derah ini memiliki pesona wisata bawah laut yang sangat luiar biasa pemandangan bawah laut di derah ini bisa dibilang yang no satu di Indonesia.
Bagi yang bisa menyelam kamu bisa melihat ke indahan terumbu karang dan pesona keindahan bawah laut Raja Ampat namun jika kamu tidak bisa meyelam kamu jangan khawatir kamu tetap bisa melihat keindahan terumbu karang Raja Ampat yang sangat indah caranya dengan datang ke dermaga berikut ini.
Didermaga ini kamu bisa melihat langsung Terumbu karang yang ada di bawah laut dan ikan-ikan laut yang beraneka ragam hanya dari dermaga. Nah mau tahu dermaga apa aja itu simak 4 Dermaga Indah di Raja Ampat berikut ini.

1. Dermaga Waiwo

Dermaga ini terletak di Waiwo, Pulau Waisai. Di dekatnya terdapat salah satu penginapan murah, yaitu Waiwo Dive Resort seharga Rp 500 ribu per malam, per orang. Dari dermaga inilah, wisatawan dapat melihat gerombolan ikan laut yang cantik. Selain memandangi ikan-ikannya, kamu juga bisa memberinya makan. Ambillah makanan seperti biskuit lalu taburkan ke permukaan air. Dalam sekejap, ikan-ikan laut beraneka ragam akan datang dan memakannya.
Kamu tidak dikenakan biaya sepeser pun untuk memberi makan ikan-ikan di sini. Dermaga Waiwo juga menjadi ramai didatangi penduduk setempat. Mereka duduk manis di dermaga, dari anak kecil sampai orang tua, untuk memberi makan ikan. Tapi, ada beberapa peraturan di  sini.Kamu dilarang membuat ikan ‘stress’ dengan cara menceburkan diri di antara mereka.

2. Dermaga Pulau Mansuar

Di Pulau Mansuar, sekitar 45 menit dari Waisai, ada dermaga Raja Ampat Dive Lodge. Ini adalah dermaga bagi para turis yang menginap di resor Raja Ampat Dive Lodge. Dermaganya cukup luas dan panjang. Dari atas dermaga, siap-siap terpukau oleh bebatuan karang dan ikan-ikan. Salah satu ikan yang dapat kamu lihat adalah ikan badut atau Clown Fish. Mereka berenang di antara bebatuan karang. Tak hanya satu, tapi ada banyak!
Asyiknya, kamu bisa snorkeling di sekitar dermaga ini. Airnya yang jernih akan membuat kamu lupa daratan. Baik kamu  menginap ataupun hanya singgah di resor, bebas snorkeling sepuasnya di sini. Saat lelah, beristirahatlah di pantainya yang berpasir putih nan halus.

3. Dermaga Pulau Arborek

Siap-siap terhipnosis di Dermaga Pulau Arborek. Dari atas dermaganya, terlihat air laut yang biru dan jernih serta terumbu karang yang cantik. Dermaga Pulau Arborek lebih luas dan dapat lebih banyak menampung banyak orang.
Uniknya, di dermaga Pulau Arborek terdapat buku tamu. Isinya adalah turis-turis yang berasal dari belahan penjuru dunia. Ada yang dari Italia, Inggris, China, hingga Brazil. Hampir semuanya menulis kata ‘awesome’ pada kolam ‘kesan dan pesan’ di buku itu.
Saat berdiri di dermaga Pulau Arborek, dijamin kamu akan tergoda untuk menceburkan diri. Tak perlu menunggu waktu, kamu bebas snorkeling sepuasnya di sana.
Lihatlah kayu-kayu di bawah dermaganya. Ada banyak tumbuhan laut yang menempel dan ikan-ikan yang berkeliaran di sekitarnya. Tak jauh dari dermaga, kamu bisa melihat beragam terumbu karang.
Bintang-bintang laut di sini juga ukurannya besar-besar. Ingat, lautan di sekitar dermaga Pulau Arborek adalah lautan yang dalam. Jangan sampai terbawa arus ke tengah laut bagi kamu yang tidak mahir berenang .

4. Dermaga Pulau Sawing Rai

Tak hanya di Waiwo, kamu  juga bisa memberi makan ikan di dermaga Pulau Sawing Rai. Memberi makan ikan dan melihat burung cendrawasih adalah satu paket di sini. Harganya sekitar Rp 100 ribu saja per orang.
Untuk memberi makan ikan di dermaganya, jari-jari tangan Anda akan diluluri adonan tepung terigu. Setelah itu, celupkanlah jari-jari Anda ke dalam air laut dan lihatlah ikan-ikan yang datang menghampiri kamu.
Rasakan pengalaman digigit ikan-ikan di Raja Ampat. Ikan dengan corak beragam warna menghampiri kamu dengan cara bergerombol. Rasanya geli, tapi terkadang juga sakit jika jari kamu digigit oleh ikan besar. Tapi tenang saja, tidak berbahaya.

Disadur dari berbagai sumber.

Berwisata Ke Pulau Terkecil Di Dunia Pulau Sinka

Wednesday, May 15, 2013
Sinka Island Park merupakan sebuah objek wisata yang ada di daerah Singkawang, Kalimantan Barat. Kawasan wisata yang terletak di teluk Karang atau Ma'jantuh, sebelah selatan kota Singkawang ini bisa ditempuh selama 3 jam dari Kota Pontianak. Objek wisata ini merupakan perpaduan dari wisata modern dan wisata alami.
Sinka Island Park adalah sebuah kompleks wisata yang dibangun untuk memanjakan masyarakat Kalimantan Barat pada umumnya dan warga Singkawang khususnya. Di kawasan wisata ini, pengunjung bisa menikmati keindahan pantai dengan berkeliling mengendarai delman atau kuda yang bisa disewa. Di area ini juga tersedia kolam renang, kantin, dan banyak kios makanan dan minuman.
Keunikannya, Sinka Island Kawasan Wisata Pantai ini memiliki Kebun Binatang atau Sinka Zoo. Keunikan kebun binatang ini terletak diberbagai penjuru mengelilingi Gunung dan kita bisa melihat keindahan laut secara langsung dari atas gunung, Sinka Zoo menampilkan hewan-hewan langka lokal maupun luar daerah, taman rekreasi ini juga menyediakan mobil wisata untuk mengelilingi Gunung. Tiket masuk di Sinka Zoo ini Rp 10.000/orang. Koleksi satwa di kebun binatang ini cukup lengkap. Disini sobat dan putra-putri bisa melihat bahkan memberi makan hewan tertentu seperti rusa dan kerbau albino. Satwa lain yang ada disini adalah gajah, harimau, singa, beruang madu, siamang, burung merak, burung kakatua, kera, burung elang laut dan ular. Disini pengunjung juga bisa memegang dan berfoto dengan ular sanca albino asli dari Brazil. 
Fasilitas di Wisata Sinka Island Park Pulau Kalimantan, seperti delman maupun kuda. Fasilitas delman dan kuda dapat disewa untuk mengelilingi taman rekreasi Sinka Island Park. Selain itu pengelola menyediakan kolam renang, kantin dan fasilitas lainnya. Selain Sinka Zoo, Objek wisata lain yang bisa dikunjungi adalah Pulau Simping. Sebuah pulau kecil dan mungil yang dihubungkan oleh sebuah jembatan yang ada di Sinka Island Park. 
Selain pulau Simping, ada juga pantai Bajau. Tiket masuknya sebesar Rp 20.000/orang. Pantai ini cenderung berbatu sehingga menyulitkan pengunjung untuk berenang. Namun di pantai Bajau ini, pengunjung bisa mencoba permainan air banana boat dengan tarif Rp 200.000/ 6 orang selama 15 menit.


Keindahan Surga Taman Laut Wisata Kepulauan Padaido (Biak, Papua)

Tuesday, April 23, 2013


Sebagai pecinta alam bawah laut tidak lengkap rasanya tanpa menyambangi Kepulauan Padaido.Lautan yang begitu bening hingga Anda bisa menyaksikan terumbu karang dan ikan berwarna-warni di bawah laut. Kepulauan yang terdiri dari 30 pulau kecil dan terletak di sepanjang sisi tenggara Pulau Biak. Pulau ini memiliki keindahan taman laut yang paling indah di dunia, sehingga mengundang para divers (penyelam) dari dalam dan luar negeri. Padaido adalah sebuah kepulauan yang terdiri dari 30 pulau kecil, dan terletak di sepanjang sisi tenggara Pulau Biak, Papua. Dahulu kepulauan ini bernama Kepulauan Schouter, berasal dari nama pemimpin rombongan pelaut Belanda yang pertama kali menemukan kepulauan itu pada 1602, William Schouter. 

Berbicara tentang makna, Padaido berasal dari bahasa setempat yang berarti keindahan yang tak dapat diungkapkan. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Biodiversity Conservation Network (BCN), Kepulauan Padaido merupakan salah satu tempat, yang memiliki keragaman hayati ekosistem koral terbesar di dunia. Karang di kepulauan ini menyimpan 95 spesies koral, dan 155 spesies ikan, seperti berbagai jenis hiu karang dan gurita serta berbagai kekayaan maritim lainnya. Kepulauan Padaido merupakan gugusan pulau-pulau karang dengan 30 pulau, yang berada di Samudera Pasifik pada sisi sebelah timur Pulau Biak. Gugusan pulau-pulau tersebut memiliki keindahan pantai dan berbagai jenis habitat seperti atol, karang tepi, dan goa-goa bawah laut (Pemda Biak, 2005). Kepulauan Padaido memiliki luas terumbu karang untuk reef flat sekitar 9.252,1 ha2 dan deep reef 328,2 ha.Beberapa penyelam internasional berpendapat bahwa kawasan pantai Padaido, merupakan salah satu kawasan yang memiliki terumbu karang yang paling spektakuler di dunia.  

Maka dari itu, taman laut ini sangat cocok untuk petualangan menyelam dan snorkeling. Hanya membutuhkan waktu 1 jam dari pelabuhan Bosnik untuk mencapai kepulauan Padaido dengan menggunakan motor boat, dan sekitar 3-4 jam menggunakan kano dayung. Pulau ini menawarkan berbagai daya tarik, gua bawah laut, dan terowongan untuk dijelajahi. Biak memang terkenal dengan wisata diving-nya seperti yang ada di Nabire, teluk Cendrawasih yang juga merupakan salah satu tempat favorit disini. rutenya, setelah sampai di pelabuhan Tiptop, yang ada di Biak, kalian dapat langsung menyewa speedboat untuk menuju kepulauan Padaido. perjalanan melintasi laut dan seru ini hanya sekitar tiga jam lamanya. sambil di perjalanan kalian dapat juga menemukan perahu nelayan yang masih tradisional mencari ikan, dan beberapa lumba-lumba muncul di permukaan air yang sangat biru waah terasa indah banged.. oya perlu juga diperhatikan untuk waktu pasang surut air laut disini saat berkunjung, kondisi air laut yang cepat surut, bisa membahayakan karena banyaknya karang yang  bisa beresiko menjungkal kapal perahu.

Saat berkunjung wisata kepulau ini ada baiknya membawa bekal makanan yang cukup, karena setelah di air dan menghabiskan cukup banyak energi pasti rasa lapar akan terasa. kalau kalian berencana menginap, didekat kepulauan Padaido, juga ada penginapan yang bisa disewakan, memang penginapan yang ada di Wundi Guesthouse bukan merupakan penginapan yang mewah dan banyak fasilitasnya, tapi dapat dijadikan tempat istirahat yang nyaman untuk bermalam. begitu sampai dan siap untuk menyelam di gua bawah laut Wundi, perlu berhati-hati dan usahakan untuk menggunakan daya apung yang bagus, agar tidak terjatuh diatas kawasan acropora, sehingga keindahan karang yang alamI disana dapat tetap terjaga. untuk sampai pada gua bawah laut ini, kalian perlu menyelam sampai kedalaman 12 meter, begitu sampai dibawah, kita akan menemukan pintu gua yang besarnya sekitar 2 meter, dan ada beberapa bangkai bekas kapal karam, bangkai pesawat udara juga beberapa peralatan perang lain.. menarik ya! sebaiknya kalian melakukan wisata menyelam ini di saat cuaca matahari terik, sehingga pantulan cahaya matahari dapat menyinari sampai di kedalaman 15 meter dan tidak perlu lagi membawa lampu untuk penerangan.
 
(Disadur dari berbagai sumber )

Potensi Mendunia Wisata Pantai Pulau Derawan

Wednesday, February 20, 2013
Derawan adalah sebuah kepulauan di provinsi Kalimantan Timur, terdiri dari beberapa pulau diantaranya pulau derawan, pulau kakaban, pulau sangalaki pulau maratua dan beberapa pulau kecil lainnya. Penamaan pulau-pulau tersebut konon berasal dari sebuah keluarga yang terdiri dari derawan (perawan), sangalaki (laki-laki), maratua (mertua) dan kakaban (kakak). Kekayaan ekosistem kepulauan derawan berada diurutan kedua di dunia setelah Raja Ampat, Papua. itulah mengapa derawan juga di juluki sebagai the 2nd Raja Ampat. Perairan derawan adalah rumah para penyu raksasa, maka tak heran jika hanya dari dermaga saja kita bisa melihat penyu sebesar meja hilir mudik mencari makan. sementara pulau kakaban memiliki coral garden berbentuk wall/dinding yang luar biasa indah, belum lagi danau kakaban yang berisi ubur-ubur yang tidak menyengat, di danau itu kita serasa berenang dalam kolam cendol karena banyaknya hewan bertubuh kenyal tersebut. dan danau sejenis danau di kakaban hanya terdapat 2 di dunia. Sedangkan di pulau Sangalaki kita bisa bertemu dengan manta raksasa yang memiliki lebar hingga 5 meter. dan di pulau maratua kita bisa bertemu dengan schooling ikan2 besar seperti baracuda bahkan hiu karpet atau wabegong sekalipun. Nah, Kepulauan Derawan ini ternyata terdiri dari 3 kecamatan, antara lain Pulau Derawan, Maratua, dan Biduk Biduk, Berau.
Objek wisata yang terletak di Kalimantan Timur ini kerap dikunjungi wisatawan lokal maupun asing, Objek wisata ini bisa jadi sebagai alternative bagi anda yang ingin nuansa wisata seperti di Raja Ampat Papua. Sama dengan, Raja Ampat, Kepulauan Derawan ini terdiri dari 4 pulau yaitu Pulau Maratua, Derawan, Sangalaki, dan Kakaban. Hebatnya lagi, di Kepulauan Derawan ini terdapat spesies langka yaitu Penyu Sisik dan Penyu Hijau. Sedangkan dipesisir pantai nya terdapat beberapa keindahan alam yang patut di nikmati, disana ada hutan mangrove, kemudian terumbu karang, dan padang lamun. Sedangkan di bagian lautnya, Kepalauan Derawan ini juga memiliki beberapa Spesies Ikan yang dilindingu dan langka mereka adalah penyu hijau, penyu sisik, paus, lumba-lumba, kima, ketam kelapa, duyung, ikan barakuda, dan juga beberapa Spesies yang belum kami ketahui. Sejatinya, berwisata ke Kepulauan Derawan Kalimantan Timur ini juga tak kalah menarik dengan wisata ke Raja Ampat yang ada di papua, bahkan pada tahun 2005, kepulauan Derawan ini sempat dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO, sayangnya, sejak kemunculan Raja Ampat Papua, kepopuleran Kepulauan Derawan ini menjadi surut, tapi jangan salah, tiap tahun nya, tetap saja tourist lokal dan asing berkunjung ke Wisata asli Kalimantan ini. 
Sama juga dengan Raja Ampat Papua, di Kepulauan Derawan ini juga terdapat beberapa penginapan yang diperuntukan untuk anda yang ingin menikmati wisata di Kalimantan Timur ini dengan waktu yang lebih lama, karena selain snorkling, tentu nya banyak rekreasi yang akan menghibur waktu liburan anda disana. Selain itu, Mata Pencaharian masyarakat sekita sana pun sama dengan Raja Ampat, mereka bekerja sebagai Nelayan, dan alangkah lezatnya jika kita menikmati secara langsung hasil tangkapan nelayan yang masih segar di pinggir pantai, tentu nya sambil menikmati tenggelam nya mentari. 
Disinilah Anda dapat menemukan 460 jenis karang. Pengurus tempat konserfasi dan tim ahli internasional juga menemukan lebih dari 870 jenis ikan di sini, mulai dari kuda laut kerdil hingga pari manta raksasa. Dalam beberapa hari, sekelompok pari manta ini dalam jumlah yang banyak sekitar 50 ekor terlihat makan bersama di perairan Derawan. Sementara di Kakaban, Anda dapat menemukan danau ubur-ubur terbesar dan paling beragam di dunia, termasuk empat spesies unik ubur-ubur stingless yang dapat berenang terbalik. Inilah alasanya mengapa Kakaban dipertimbangkan menjadi nominasi Situs Warisan Dunia UNESCO. 

Disadur dari berbagai sumber.

Exotic Mentawai Island

Tuesday, October 30, 2012
The presence of local and foreign tourists also made a number of places in the Mentawai overgrown with luxury resorts, especially in coastal areas that have good waves for surfing. In the tourist resort can enjoy the exotic Mentawai which consists of 213 islands as well as for surfing. Waves in the Mentawai islands, by various organizations is the third best surfing universe after Hawaii and Tahiti. In Mentawai, surf is usually done in Nyangnyang Island, Coral Majat, Masilok, Botik, and Mainuk. The peak tourist visits there in July and August. It was the height of the waves in the Mentawai reaches 7 meters. "The island is beautiful. I'll come here again, "said Andrea, tourists from Italy, about the Mentawai visited for one week. 
For nature lovers, the Mentawai Islands are the natural habitat of 16 endemic species, some of them endangered species like the Simakobu monkey. If you are in to trekking jungle paths to view the animal and bird life then you couldn’t have picked a better spot in Sumatra. Those of you with cultural interests, then you will find the life of Mentawai people fascinating and especially the stone-jumping. They have a strong believe in a nature spirit of life and that nature is the centre of all life and living. Their culture, traditional cloths, art, music and the way of life are all attributed to nature. The most important symbol for the Mentawai people is the tattoo as it symbolises maturity, manhood and status. This incredible body art is fascinating. There are four diving spots in the Mentawai Islands. Siberut, Sipora, Pagai Utara and Pagai Selatan. Each of these have good clearance for many metres and the pristine waters offer up some of the most beautiful corals and reef fish in the whole of the Indonesian archipelago. But it is the surfing that is the drawcard of the Mentawai Islands where good surf can be found year-round. Some of these waves are 3 to 4 meters, and will totally challenge your expertise as a surfer. The best waves are during dry season from March to October. 
The best accommodation is staying at the houses of the local people just for the experience of living in a unique culture for your period of stay and for experiencing the interaction with them. However, if this is not your cup of tea then there are. budget hotels in Siberut. To access all the beauty on offer, whether it is the beaches, surf or diving, I suggest you head down to the beach and ask one of the locals to take you to where you want to go in the island chain. Naturally you will have to bargain the price! The Mentawai Islands are indeed exotic to the max and their fresh seafoods you can find in any of the restaurants run by the local people. If luck is with you then you can cook your own sea food. Of course to get the correct taste like the locals cook, make sure you ask the locals for the secret recipe or spices to be used. Getting that secret is another matter! 

Source : http://www.indonesialogue.com

Uniqueness of Nusakambangan Island

Sunday, September 23, 2012
Nusa Kambangan is the name of an island in Central Java is known as a place located several correctional facility (LP) ber high security in Indonesia. To reach this island people have to cross by ferry from the port of Cilacap in particular for approximately five minutes. The ferry port of this island called Wijayapura. Kambangan island, which has status as nature reserves, often used in addition to military training, is also a habitat for rare trees, but many have been felled illegally. Currently the remaining are mostly herbaceous plant, palm, and thickets. Pawlar timber that can only be found on the island is often stolen because once dried, has a quality equal to the wood from Borneo.  
It is located in the southern part of Cilacap city and separated from Java Island by Segara Anakan. Administratively this island is under Cilacap region, but Nusakambangan Island is under the responsibility of Department of Justice and Human Right. Other tourism objects in this island are: Ratu Cave, Permisan Beach, Pasir Putih Beach. 
Segara Anakan is located behind Nusakambangan Island, CIlacap Regency. Segara Anakan is a unique Laguna in southern beach Java Island, with ecosystem of mangrove that has composition and the most complete forest structure in Java Island. Various components of biological resource such as plants and animal habitation, land and water landscape interact each others and make a natural ecosystem. Segara Anakan is a part of Nusakambangan which is united into one spectacular spot that worth to be seen. The landscape of the land and its uniqueness offer an unforgetable and amazing view. It is guarantee that visitors will enjoy the beautiful and uniqueness of the island. 
Pendem Fortress complex in Dutch called "Kusbattery op de lantong te Cilacap." It is surronded by trench with wide 12 m, and there are some part of the building that can be seen untill up to this moment. Beside that trench there is also wall around this location completed with reconnaisance hole which is also fucntion as hole for shooting. This Benteng Pendem is unique fortress, because almost all of phisical part of this fortress are hidden in the ground, with wide ± 6.5 ha. In the fortress there is a number of buldings which is built in the ground. From numbers which is written on the building, it can be concluded that the building was built in1861-1879. Parts of the fortress are: barrack, defense, crypt/ tunnel, ammunition room, prison, space weapon, accomodation room, health room, well, fortress building, warehouse and kitchen building, stockhouse buiding, barrack buiding, chamber officer, surveillance building, trench. Administrativelly this building is located in Cilacap village, South Cilacap District in Teluk Penyu region ± 300 m western Teluk Penyu Beach. 

Source : http://tourismplacesindonesia.blogspot.com

Belitung Island Tourism

Thursday, September 20, 2012
Belitung is an Island in South East Asia, a part of Nation archipelago. Belitung is ruled by Indonesia since 1950 and became a district of South Sumatra province. On November 21st, 2000, Belitung and Bangka Island has been approved to become the 31st province of Indonesia separated from South Sumatra. This new province is called ‘Kepulauan Bangka Belitung’ province. This Island is placed at 107o 35' - 108o 18' Latitude and 2o 30' - 3o 15' Longitude.  
The length of the diameter from East to West is about 79 km and North to South about 77 km. The total land is 480.060 hectares with 189 small islands surround Belitung. Some of them are quite big with a couple of villages. They are Mendanau Island, Seliu Island, Nadu Island and Batu Dinding Island. Most of Belitung population is come of Melayu ethnic and most of them are Moslem. There are some other ethnics likes Chinese, Javanese, Balinese and some people from Sumatra like Palembang, Minang and Batak. Belitung regency consists of 9 districts and 69 villages. The capital of Belitung is Tanjungpandan, which stay at North West of this Island. The other large towns are Manggar, Gantung, Kelapa Kampit and Sijuk. The main resources, which also become the main product of Belitung Island, are tin mining, kaolin, quartz sands, and granite rock. The plantation are mainly palm oil, pepper, coconut, coffee, natural rubber, and vegetable.
If seen from its tourism sector, Belitung is an island with beautiful beaches, the unique landscape with its purely white sand, and the crystal clear seawater. Belitung is also popular with its granite boulder white stones beach in Tanjung Tinggi, Tanjung Kelayang, Tanjung Binga dan Lengkuas Island. This beautiful nature is also accompanied by hundreds of small islands, which add the beautiful tourism area in Belitung Island. Belitung Island is one of the best and unique beaches own in Indonesia. 
Thanks for your interest to Belitung, an island that promise you with view of beautiful nature. Belitung is a tropical island placed in southern part of equator (-5.5725 Latitude; 104.9305 Longitude) part of Bangka Belitung province in Indonesian territory. There are 200.000 people living in the island majority from malay and chinese. Belitung is an emerging tourist destination as alternative of Bali, Lombok, Yogyakarta, Menado or other tourist destination in Indonesia. Travelers come to Belitung mainly only two reason, "beautiful beaches" and "Rainbow Troops (Laskar Pelangi)" . And the beaches have not been touched by tourism industry yet. You will see an amazing view as we shown in this web site. 

Source : www.belitungisland.com

Seribu Island Tourism

Sunday, September 16, 2012
Pulau Seribu means a "Thousand Island" consisting of almost 128 small islands located in the Bay of Jakarta in the Java Sea. Most of these are inhabited and can be reach in about 1 - 2 hours from Marina Ancol by ferry or by chartered board. The surrounding reefs are home to a wide variety of fishes, making Pulau Seribu an ideal spot for diving, Snorkeling and fishing. Some of the islands is this group developed for tourism are Pulau Bidadari, Pulau Ayer, Sepa, Coconut, Pelangi, Bira, Pantara, Kul-kul and Pulau Putri. There are also cabins for tourists, besides golden beaches fringed with coconut palms.  
The surrouding waters are a paradise for skin divers.They are filles with a myriad of tropical fish, which live among the multicolored corals. The Pulau Putri Paradise Co. has developed Pulau Putri, Pulau Melintang, Pulau Petondang and Pulau Papa Theo as a holiday resort with cottages, restaurants, diving and sailing facilities. The skin divers find the surrounding turquoise waters irresistible for exploring the fascinating marine world filled with a myriad of tropical fish, which live among the multicolored corals. The Pulau Putri Paradise Co. has developed Pulau Putri, Pulau Melintang, Pulau Petondang and Pulau Papa Theo as a holiday resort with cottages, restaurants, diving and sailing facilities. 
The enchanting island of Pulau Ayer, belonging to the Pulau Seribu (Thousand Islands), was once the private recreational retreat of the former kings of the Thousand Island. In fact, not too long ago, even the first President of the Republic of Indonesia also used it as his private vacationland. 
Looking at this oasis of tranquility, you will understand why this exotic island, laced with secluded trees and beautiful beach has been dubbed " Mutiara Kepulauan Seribu " or " Pearl of the Thousand Island ". It is located only a short, 30 minutes boat trip from Marina, Ancol Jakarta, offering many kind of entertainment, recreational, water sport facilities and accommodation. 

Source : http://www.thousandisland.co.id

Rote Island Tourism

Wednesday, September 12, 2012
Rote Island is a part of Kupang Regency and is the southernmost island of Indonesia. It is located in the west coast of Kupang. This exotic island can be reached only in four hours. From Kupang by inter-island ferry to dive and tour this untouched beautifully rugged land. Spectacular walls and caverns mirror the hills, valleys, and escarpments underwater. The marine life is so varied and profuse that is hard to believe from Fire-fish to Mantas. The architecture of Rote is unique, as is their exquisite ikat weaving. See the people is their traditional lifestyle, which has remained unchanged for centuries.  
Rote has many historical relies including fine antique Chinese porcelains, as well as ancient arts and traditions. Many prominent Indonesia nationalist leaders were born here. A popular music instrument Sasando, which is made of palm leaves. According to legend, this island got its name accidentally when a lost Portuguese sailor arrived and asked a farmer where he was. The surprised farmer, who could not speaking Portuguese, introduced himself, "Rote". Rote just off the southern tip of Timor Island consists of rolling hills, terraced plantations, and acacia palm, savanna and some forests. 
The rotinese depend, like the Savunese, on lontar palm for basic survival, but also as the supplement their income with fishing and jewelry making. Before Indonesia's Independence, Rote, boasted the highest density of kingdom in the East Indies. Even today the island, the Rotenese and their kingdoms are divided, following ancient tradition, into two domains, one known as Sunrise and one as Sunset. A “male” Lord, a “female” Lord and several advisers, representing the clans within that domain, rules the domain. Each clan that possesses ceremonial rights performs it's own rituals during the annual HUS celebration, a traditional New Year festival. At the HUS, Rotenese men wearing their unique hats make offerings to the clan ancestors and the women dance accompanied by sasando, 
The Rotenese guitar. Rote is particularly well know for its surfing, each year surfers flock to Namberala to ride the near perfect tubes formed by the shallow reefs and off-shore winds. Accommodation in Namberala includes a traditional beachfront bungalow resort and several home stays. The beach itself is one of the best examples of a palm fringed pure white sandy beach to be found anywhere. Diving in the area is also exceptional due to the large numbers of Manta and Dugong seen there. A boat trip to nearby Dana or Ndao Islands is also recommended. 

Source : http://www.indonesia-tourism.com/

Nias Island Tourism

Tuesday, September 11, 2012
Nias Island lies about 125 km of west Sumatra Island on the Indian Ocean. It is part of North Sumatra Province. The water surround the island is great for sea activities, such as surfing and scuba diving. The people also have curious culture, which will enrich visitor's heart. The island has some prehistoric remains, which built on megalithic Stone Age, and considered came from the oldest megalithic culture in Indonesia. The local call their land as Tano Niha or "land of the People", while the people calls them selves as Ono Noha. Ethnically, the Niasers are involved in to the Ptoto-Malay ethnic who once ever get with the Asian Proto-mongoloid world. Niasers speak a kind of language related to Malagasy. Because of the similarity in languages, custom, body size of the Niasers with the Bataks on Sumatra mainland, it is possible that the Niasers have derived from the Bataks. 
Surfers will call this island "Paradise on Earth". Together with its beautiful white sandy beach, Lagundri Bay challenge surfers with spectacular waves. In the high season, the waves told to be as high as 3.5 meters. The waves of Sorake Beach on Lagundri Bay have ranked to be within the best ten waves of the world. It is true if some surfers referred of Sorake Beach waves as "the most notorious right-band reef breaks". There are events held for surfers, including the World Professionals Qualifying Series. Surfers are better being ready when your heart cannot leave this island after a visit.
 Enormous breakers pummel of Nias Island attracting the best surfers in the world to Lagundri Beach. The unforgiving power attacking the shore seems to have bred the same qualities in the people, whose militaristic culture has fascinated anthropologists for decades. This island lies off West Sumatra in the Indian Ocean. Bawomataluo and Hilisimae villages are curious places to visit, where visitors can see performances of traditional war dances and thrilling high- jump sports, i.e. people making dangerous leaps over 2 meter-high stones. Typical scenes are dancers clad in traditional costumes with bird feathers on their heads, a hall for the Chief-of Tribe built on wooden logs with stone chairs weighing up to 18 tons. There are daily flights from Medan to Nias Island. 

Source : http://www.indonesia-tourism.com

Samosir Island Tourism

Sunday, September 9, 2012
Samosir Island, The giant dry "island of the dead" in the middle of Lake Toba. It's a grim reminder of a second powerfull eruption, about 30.000 years ago. Samosir island is an approximately almost as big as Singapore Island, often described as the heartland of Batak culture, with their traditional dwellings are elevated house made of hard wood, and are located amidst beautiful mountain scenery.  
The two main ferry landing pints on Samosir are Tomok, a traditional village with beautiful Batak houses and stone tombs, and Tuk-tuk, where the island's many hotels and restaurants are concentrated. Samosir Islan is one of the best place for Swimming, Fishing, Rafting, Water skiing, Speed boat trips, power boating, shopping traditional craft, etc. 
The island measures 45 by 20 km, and originally was a peninsula. It only became a peninsula after the Dutch arrived and dug a canal across the small piece of land of 200 metres in 1906. This action seemed to have a lot to do among the local population, because they thought the island would slip away towards the middle of the lake and simply dissappear. The eastern coast of the island rises steeply from a small bank towards a central plateau with an altitude of 780 metres. This gradually descends towards the southern and western coast of the island and is scattered with small villages which dangerously lean against the rock, and cross ravains. 
The Samosir plateau mainly is clear rock, with some scattered forests, swamps and a small lake. There is a road parallel with the shores of the island, but this can be bad at certain points, with a number of bad bridges in the southwestern corner. From Pangururan, the kecamatan-centre at the western side, a bridge connects the island with mainland Sumatera. The road ascends to an altitude of 1800 metres after that. Here, the village of Tele offers a good view over the lake and the island. During the northeastern monsoon (September until January), a strong wind usually arrived from the high altitudes, the alogo bolong or 'big wind'. This produces waves of over one metre high, which can made traffic over water very hard. Local ferries, most of the time overloaded with freight and people, can be lost during these storms.
 Earlier the Batak used big tree-trunk canoos (solu) made of a single tree to cross the lake. Noaways only very small canoos are used. F.M. Schnitget, author of 'Forgotten Kingdoms in Sumatera', visited Samosir in the 1930's and described the adathouses, stone graves and coffins of no less than 26 villages. Looking for these villages is hard, because many of the names have been changed since them; others were abandoned and some of the stone sarcofagusses were removed from their original location. Outside the paved roads time and patience are an important factor to find the graves. But for many people a visit to Samosir is no more than a quiet ferry fare to Tomok, where the most famous of all Toba Bakat sarcofasussus are just on a few minutes away from the pier. 

Source : http://www.samosirtourism.com/com

Belitung Island Tourism

Thursday, September 6, 2012
Belitung is an Island in South East Asia, a part of Nation archipelago. Belitung is ruled by Indonesia since 1950 and became a district of South Sumatra province. On November 21st, 2000, Belitung and Bangka Island has been approved to become the 31st province of Indonesia separated from South Sumatra. This new province is called ‘Kepulauan Bangka Belitung’ province. This Island is placed at 107o 35' - 108o 18' Latitude and 2o 30' - 3o 15' Longitude.
The length of the diameter from East to West is about 79 km and North to South about 77 km. The total land is 480.060 hectares with 189 small islands surround Belitung. Some of them are quite big with a couple of villages. They are Mendanau Island, Seliu Island, Nadu Island and Batu Dinding Island. Most of Belitung population is come of Melayu ethnic and most of them are Moslem. There are some other ethnics likes Chinese, Javanese, Balinese and some people from Sumatra like Palembang, Minang and Batak. Belitung regency consists of 9 districts and 69 villages. The capital of Belitung is Tanjungpandan, which stay at North West of this Island. The other large towns are Manggar, Gantung, Kelapa Kampit and Sijuk. The main resources, which also become the main product of Belitung Island, are tin mining, kaolin, quartz sands, and granite rock. The plantation are mainly palm oil, pepper, coconut, coffee, natural rubber, and vegetable. 
If seen from its tourism sector, Belitung is an island with beautiful beaches, the unique landscape with its purely white sand, and the crystal clear seawater. Belitung is also popular with its granite boulder white stones beach in Tanjung Tinggi, Tanjung Kelayang, Tanjung Binga dan Lengkuas Island. This beautiful nature is also accompanied by hundreds of small islands, which add the beautiful tourism area in Belitung Island. Belitung Island is one of the best and unique beaches own in Indonesia. 
North coast of the island is South China Sea, Java Sea on the South coast, Kari Mata strait on the East close to Borneo Island and Gaspar strait on the West close to Bangka island. The land is about 4833 square km, 89 km long (East to West) and 69 km wide (North to South) with diversified terrain, hilly areas and extensive tracks of marshland. The climate is tropical, temperature around 27 - 31 C degree during the day and 23 - 25 C degree during the night. There only 2 season a year, rainy season (120mm) from October to April and hot season during April to October. The highest land is Tajam Mountain, only 500m above the sea. The others are just a hill likes Burung Mandi, Kubing, Kik Karak, Peramun, Selumar, Guda, ect. The land surface is originally tropical forest, but since the development palm oil industry in 1992 more than 40% of the surface are palm oil plantation. 

Source : http://www.indonesia-tourism.com/bangka-belitung/belitung.html

Komodo National Park

Tuesday, September 4, 2012
Komodo National Park is located in the center of the Indonesian archipelago, between the islands of Sumbawa and Flores. Established in 1980, initially the main purpose of the Park was to conserve the unique Komodo dragon (Varanus komodoensis) and its habitat. However, over the years, the goals for the Park have expanded to protecting its entire biodiversity, both terrestrial and marine. In 1986, the Park was declared a World Heritage Site and a Man and Biosphere Reserve by UNESCO, both indications of the Park's biological importance. Komodo National Park includes three major islands: Komodo, Rinca and Padar, as well as numerous smaller islands creating a total surface area (marine and land) of 1817km (proposed extensions would bring the total surface area up to 2,321km2). As well as being home to the Komodo dragon, the Park provides refuge for many other notable terrestrial species such as the orange-footed scrub fowl, an endemic rat, and the Timor deer. Moreover, the Park includes one of the richest marine environments including coral reefs, mangroves, seagrass beds, seamounts, and semi-enclosed bays. These habitats harbor more than 1,000 species of fish, some 260 species of reef-building coral, and 70 species of sponges. Dugong, sharks, manta rays, at least 14 species of whales, dolphins, and sea turtles also make Komodo National Park their home.  
Threats to terrestrial biodiversity include the increasing pressure on forest cover and water resources as the local human population has increased 800% over the past 60 years. In addition, the Timor deer population, the preferred prey source for the endangered Komodo dragon, is still being poached. Destructive fishing practices such as dynamite-, cyanide, and compressor fishing severely threaten the Park's marine resources by destroying both the habitat (coral reefs) and the resource itself (fish and invertebrate stocks). The present situation in the Park is characterized by reduced but continuing destructive fishing practices primarily by immigrant fishers, and high pressure on demersal stocks like lobsters, shellfish, groupers and napoleon wrasse. Pollution inputs, ranging from raw sewage to chemicals, are increasing and may pose a major threat in the future.
Komodo National Park lies in the Wallacea Region of Indonesia, identified by WWF and Conservation International as a global conservation priority area. The Park is located between the islands of Sumbawa and Flores at the border of the Nusa Tenggara Timur (NTT) and Nusa Tenggara Barat (NTP) provinces. It includes three major islands, Komodo, Rinca and Padar, and numerous smaller islands together totaling 603 km2 of land. The total size of Komodo National Park is presently 1,817 km2. Proposed extensions of 25 km2 of land (Banta Island) and 479 km2 of marine waters would bring the total surface area up to 2,321 km. Komodo National Park was established in 1980 and was declared a World Heritage Site and a Man and Biosphere Reserve by UNESCO in 1986. The park was initially established to conserve the unique Komodo dragon (Varanus komodoensis), first discovered by the scientific world in 1911 by J.K.H. Van Steyn. Since then conservation goals have expanded to protecting its entire biodiversity, both marine and terrestrial. The majority of the people in and around the Park are fishermen originally from Bima (Sumbawa), Manggarai, South Flores, and South Sulawesi. Those from South Sulawesi are from the Suku Bajau or Bugis ethnic groups. 
The Suku Bajau were originally nomadic and moved from location to location in the region of Sulawesi, Nusa Tenggara and Maluku, to make their livelihoods. Descendents of the original people of Komodo, the Ata Modo, still live in Komodo, but there are no pure blood people left and their culture and language is slowly being integrated with the recent migrants. Little is known of the early history of the Komodo islanders. They were subjects of the Sultanate of Bima, although the island’s remoteness from Bima meant its affairs were probably little troubled by the Sultanate other than by occasional demand for tribute. 

Source : http://www.komodonationalpark.org/
 

Pariwisata Indonesia Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger