Showing posts with label Natural Tourism. Show all posts
Showing posts with label Natural Tourism. Show all posts

Kebun Raya Kuningan, Destinasi Anyar Wisata Alam

Thursday, November 16, 2017
Jika kamu berkunjung ke Kuningan, Jawa Barat jangan lupa untuk singgah di destinasi wisata yang satu ini. Pasalnya, tempat ini merupakan tempat favorit para wisatawan terunik di Indonesia. Adalah Kebun Raya Kuningan, Mewujudkan Lima Fungsi Kebun Raya yang baru diresmikan pada tanggal 25 november 2015 ini sudah mampu memikat hati banyak wisatawan.
Pasalnya, kebun ini tergolong unik di Indonesia karena memiliki tematik bebatuan. Taman ini dibangun untuk memanfaatkan peluang sumber daya hayati serta mendorong masyarakat akan pentingnya konservasi.
Sekedar tahu saja bahwa bahwa lokasi kebun Raya Kuningan ini terletak di Desa Padangbeunghar, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan. Yang memiliki tematik batuan pada ketinggian 490-870 meter di atas permukaan laut. Tematik batuan itulah yang menjadi ciri khas dan keunggulan dari Kebun Raya Kuningan.

Fasilitas Kebun Raya Kuningan

Keunikan KRK (kebun Raya Kuningan) menjadi daya tarik tersendiri bagi para calon wisatawan yang hendak pergi ke sana. Bebatuan yang berjajar di sana menjadikan taman rekreasi yang sekaligus digunakan sebagai konservasi ini dikenal unik oleh masyarakat.
Tidak hanya keunikan saja yang ditampilkan di sana, namun beberapa fasilitas penunjang konservasi dan rekreasi telah disuguhkan di sana seperti Taman kuning, Rumah anggrek, Taman Awi siugeung, Taman tipikal gunung ciremai, Situ cibuntu, dan embung.
Untuk fasilitas lainnya juga tidak kalah penting sebagai penunjang keindahan Kebun Raya Kuningan ini, seperti air mancur, jalan lingkungan pembibitan, dan lain sebagainya.
Bagi kalian yang ingin melakukan konservasi alam di sana tanpa ragu-ragu kalian bisa mendatangi secara langsung ke tim pengelola yang bekerja di Kantor pengelola KRK. Dan yang terakhir sebagai penunjang keamanannya, pastinya sudah disediakan tempat parkir. Meskipun kawasan alam, keadaan beberapa kendaan harus rapi dan aman.

Keindahan Kebun Raya Kuningan

Obyek wisata Kebun Raya Kuningan (KRK) memiliki keindahan tersendiri jika dibandingkan dengan tempat wisata yang lain. Taman unik yang berbetuk lingkaran ini tumbuh sejumlah tanaman dan bunga langka serta beraneka warna. Jika kita berkenan melihat pemandangan dari atas patung kuda, maka akan terlihat dengan jelas wilayah kabupaten Cirebon dan pantai laut jawa sangat indah.
Luas lahan yang dimiliki oleh Kebun Raya Kuningan ini mencapai 154.908 hertare, yang pada tahun 2014 silam telah terisi aneka jenis koleksi flora. Beragam jenis flora dan fasilitas yang tersedia di Kebun Raya Kuningan ini akan membuat siapa saja takjub akan keindahannya.
Contoh koleksi yang dimiliki oleh kebun raya kuningan yakni terdiri dari pohon tipikal lokal kuningan, tipikal Jawa Barat, nasional, bahkan beberapa jenis tanaman tipikal sejumlah negara.
Dengan bertambahnya Kebun Raya yang ada di Indonesia, diharapkan pengembangan lima fungsi kebun raya dapat terealisasikan lebih baik lagi. Lima fungsi kebun raya tersebut diantaranya, fungsi pendidikan, penelitian, rekreasi, ekonomi, dan konservasi.
Tidak lepas dari fungsi kebun raya tersebut, hadirnya kebun raya kuningan dengan segudang fasilitas yang memadai akan mampu mewujudkan lima fungsi kebun raya.

Akses lokasi Menuju Kebun Raya Kuningan

Destinasi wisata Kebun Raya Kuningan Jawa Barat ini berlokasikan di Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan yang yang dapat ditempuh hanya satu jam perjalanan dari Pusat Kota Kuningan. Untuk mencapai wisata ini bisa dikatakan cukup mudah, karena di beberapa tempat sudah terpasang beberapa papan penunjuk jalan menuju arah Kebun Raya Kuningan.
Sayangnya bagi kalian yang ingin pergi ke sana bersama rombongan besar dengan mengendarai bus, dengan berat hati mengatakan bahwa jalan daerah pedesaan di kawaan wisata ini belum bisa dilalui oleh kendaraan sejenis bus.
Karena kondisi jalan pedesaan yang masih sempit sehingga sulit dilalui oleh bus itu sendiri. Tapi jangan khawatir untuk kendaan mobil, karena kendaraan mobil sudah tersedia tempat parkir di sana.

Harga Tiket dan Jam Buka Kebun Raya Kuningan

Kebun Raya kuningan beroperasi dari pukul 08.00-16.30. Untuk masuk wisata kebun raya kuningan ini ngga perlu menguras kantong berlebih loh. Cukup bayar sesuai denga kendaraan yang kalian bawa. Jika kalian membawa motor hanya dikenakan tarif Rp. 5.000 saja tiap kendaraan.
Jadi meskipun satu motor isinya bertiga (tapi jangan bertiga juga yang naik motor, pelanggaran berat itu namanya, hehe) kalian cukup membayar Rp. 5.000 saja. Begitu juga dengan mobil. Hanya Rp. 10.000 kalian sudah bisa menikmati panorama Kebun Raya Kuningan di Jawa Barat ini.

Tips liburan di Kebun Raya Kuningan

Sebelum anda berangkat ke tempat wisata Kebun Raya ini, hendaknya kalian mempersiapkan keperkuan yang akan dibutuhkan selama kalian berada di sana. Tidak lupa ‘senjata perang’ berupa kamera harus selalu siap jepret ketika menemukan spot foto yang oke. Mengabadikan setiap jengkal bersama keluarga atau pun teman-teman di sana.
Perlengkapan kesehatan juga jangan lupa dipersiapkan ya teman-teman. Karena akibat perjalanan jauh kita tidak tahu kapan sakit akan melanda. Nikmat akan berkurang jika sakit sudah tiba. Hehehe bukan begitu kan ya? Untuk mencegah sakit berat melanda. Kalian butuh mempersiapkan fisik secara agar tetap selalu fit, serta selalu jaga kondisi diri dan selalu berhati-hati.
Setelah membaca detail mengenai Kebun Raya Kuningan, tentunya sudah diragukan lagi untuk segera mengunjungi ke sana. Khususnya bagi masyarakat Jawa Barat sendiri, rasanya kurang afdol jika tidak mengunjungi salah satu destinasi wisata yang sekarang lagi hits.
Jika kalian mempunyai banyak waktu (sempatkan meluangkan waktu dari penatnya pekerjaan). Kalian bisa menghabiskan waktu di sana, menikmati berbagai keindahan yang tersaji di Bumi Kuningan yang sayang sekali untuk dilewatkan.

Disadur dari berbagai sumber.

Menjelajahi Wisata Tebing Keraton Bandung

Tuesday, March 22, 2016
Tebing Keraton, mendengar pertama kali nama obyek wisata ‘baru’ ini agak aneh, karena lokasinya di Bandung. Trus kenapa? Berasa aneh karena setiap kali mendengar istilah ‘Keraton’, yang terlintas pertama kali di otak saya adalah ‘Keraton’ = ‘Jogja‘. Eh tapi ini Keraton lokasi di Bandung! Bukan bermaksud melupakan kalau keraton itu gak cuma di Jogja, tapi mungkin karena saya ini lahir dan besar di Jogja, jadi wajar lah ya kalau kata ‘Keraton’ nempel banget di otak saya. *harap maklum* 😀
Mungkin saya tau ada obyek wisata ‘baru’ ini sudah sejak lama (awal 2014 kalau tidak salah). Saya langsung coba googling dan lihat foto-fotonya, plus alasan lokasinya juga bisa dibilang masih berada di lingkungan kota Bandung… “OK, saya harus mengunjungi tempat ini!!
tebing keraton, view 1
Tebing Keraton
View dari Tebing Keraton
View dari Tebing Keraton
Di bulan Oktober 2014 lalu, rencana ke Tebing Keraton sudah dipersiapkan dengan baik, tinggal berangkat saja di akhir minggu (12 Oktober 2014), eh tapi karena ada alasan lain, saya pun gak jadi berangkat. Tuhan masih belum mengijinkan saya mengunjungi Tebing Keraton saat itu. Gagal total rencana ketemuan sama mbak ini dan mbak itu, yang menyebut grupnya sebagai Duo Ginuk
beda tipis lah sama Duo Serigala
So, apa nyerah gitu saja? Tentu tidak dong…! Akhirnya yah…, 160 hari kemudian dari rencana yang tertunda tersebut atau tepatnya tanggal 21 Maret 2015 lalu saya berkesempatan mengunjungi Tebing Keraton. 😀 Kebetulan saat itu saya ada tugas kantor ke kota Bandung, jadi ya disempat-sempatin mampir ke Tebing Keraton hari Sabtu pagi sebelum siang harinya saya harus balik ke Jakarta lagi.
( disclaimer : itu yang ngitung 160 hari dari web hasil googling, kalau salah ya jangan diprotes 😆 )
Butuh waktu kira-kira 30 menit perjalanan darat menggunakan mobil dari hotel kami yang terletak di jalan Juanda (alias daerah Dago). Berangkat sekitar jam 4.45 pagi, dan sampai di lokasi parkiran mobil sekitar pukul 05.15. Itu baru sampai di parkiran saja ya… Untuk menuju ke lokasi Tebing Keraton-nya., kita masih harus jalan kaki dengan medan menanjak kurang lebih selama 40-50 menit. Bisa aja sih menggunakan ojek, tapi saat itu saya lebih pilih jalan kaki. Lumayan duit ojeknya bisa buat beli aqua botol, hahaha… ( ya itung-itung memang buat olahraga pagi sih 😀 )
Tukang ojek di sini rada-rada setengah maksa gitu sih. Kalau kita jalan kaki, selalu dibilang jauh sambil terus mengikuti kita berjalan. Ya tinggal kekuatan iman plus fisik kita tentunya yang membuat kita memilih tetap jalan kaki atau naik ojek. 😀
Kami sampai di lokasi yang disebut Tebing Keraton sekitar pukul 6 pagi, kurang-kurang dikit lah. Dari atas bukit kita akan disuguhi pemandangan yang menakjubkan! Kabut pekat pagi (atau awan?) menembus pepohonan dan menghiasi deretan bukit-bukit di sana. Saya yang posisinya berada di atas bukit-bukit tersebut, berasa hidup di atas awan!
Tebing Keraton saat menjelang matahari terbit
Tebing Keraton saat menjelang matahari terbit
embun pagi di tebing keraton, segerrr!
embun pagi itu… segerrr!
Semakin siang (menjelang jam 7 pagi), matahari makin jelas menerangi area Tebing Keraton. Pemandangan detail deretan bukit-bukit tersebut semakin jelas pula, namun konsekuensinya kabut sudah tidak sepekat sebelumnya. Trus, apa pemandangan jadi jelek? Gak juga koq, dasarnya barisan bukit-bukit tersebut sudah membentuk sebuah pemandangan yang cantik. :)
hutan pinus di tebing keraton
hutan pinus di tebing keraton

Cara ke Tebing Keraton
Bagaimana cara menuju ke Tebing Keraton dari kota Bandung? Caranya, dimulai dari McD Simpang Dago adalah sbb :
  1. Dari McD Simpang Dago lurus terus ke arah Sheraton sampai melewati Dago Tea House dan Terminal Dago
  2. Tidak jauh dari Terminal Dago, ada jalan bercabang. Yang ke kiri menuju Dago Giri, yang ke kanan ke arah Bukit Dago Pakar. AMBIL YANG KANAN
  3. Dari sana beberapa ratus meter ada cabang lagi. Yang kiri ke Dago Bengkok. Yang kanan masih ke arah Bukit Dago Pakar. AMBIL YANG KANAN
  4. Beberapa ratus meter dari sana, dekat Indomaret di sisi kiri jalan, ada belokan ke kiri ke arah Tahura (Taman Hutan Raya) Ir. H. Juanda. BELOK KIRI. Kalau lurus terus nanti bablas ke daerah cafe-cafe seperti belokan ke Sierra, dan Stone Cafe
  5. Jalanan menanjak beberapa ratus meter, di sebelah kiri ada gerbang masuk dan tempat parkir luas untuk Tahura, masih lurus terus
  6. Tidak jauh dari sana ada jalan bercabang di dekat warung. Jalanan ke kanan ada tulisan Bukit Pakar Utara. BELOK KANAN
  7. Dari sini jalanan makin menanjak dan kondisinya rusak sekali. Aspalnya sudah banyak yang habis sehingga permukaannya berbatu-batu. Jalanan akan melewati hutan di sisi kiri. Terus sampai ada cabang. AMBIL YANG KIRI. Di sana ada papan sementara yang bertuliskan ‘Tebing Keraton’ serta anak panah ke kiri.
Cara ke Tebing Keraton di atas, saya ‘comot’ dari blog PergiDulu.com, Informasi yang diberikan sangat informatif dan beneran step-by-step, asal diikuti dengan baik, dijamin gak nyasar koq! 😀 Saya lakukan penyesuaian seperlunya. Mobil harus diparkir di lokasi sesuai step no 7 karena jalan menuju ke Tebing Keraton semacam diportal begitu yang hanya bisa dilewati motor. Sejak titik sini lah kita harus berjalan kaki atau menggunakan jasa ojek di sana. Sudah tau kan ya alasannya diportal karena apa? :)
kondisi jalanan dari parkiran menuju Tebing Keraton
kondisi jalanan dari parkiran menuju Tebing Keraton
Tips dan Trik
  • Untuk masuk ke wisata Tebing Keraton ini ditarik biaya retribusi sebesar 11 ribu IDR / orang. Kalau parkir mobil (saat itu) adalah sebesar 5 ribu IDR.
  • Kalau mau jalan kaki dari parkiran, medannya tidak terlalu berat, beberapa bagian memang agak curam, tapi rata-rata cukup landai…, tapi ya gitu.. menanjak terus menerus sampai ke ‘puncak’ Tebing Keraton.
  • Gunakan sepatu atau sandal yang nyaman untuk trekking. Kalau sehabis hujan, jalanan menuju maupun area sekitar Tebing Keraton sedikit licin. Selain itu banyak juga jalanan yang kondisinya rusak, atau berbatu-batu.
  • Saya kurang tau apakah boleh membawa motor sendiri ke atas tanpa menggunakan jasa tukang ojek, tapi kalaupun bisa, pastikan motornya sehat ya, apalagi kalau bukan karena jalanannya menanjak dan berbatu-batu.
Sumber : http://www.chockysihombing.com

Wisata Telaga Biru Cilembang Surga Tersembunyi

Thursday, March 17, 2016
Indonesia sangatlah indah dan dianugerahi banyak keistimewaan alam yang sangat luar bisa. Keindahan alam tersebut terbentang dari Sabang sampai Merauke. Tak perlu jauh-jauh untuk menikmati keindahan alam ke luar negeri. Di negeri kita sendiri pun sangat banyak tempat indah dan menakjubkan yang masih belum diketahui dan belum di promosikan secara luas.
Jangan bangga ketika mampu menjelajahi belahan dunia yang begitu luas. Malulah ketika tidak bisa mengenal betapa indahnya negeri milikmu. Jika kamu sudah mengenal seluk belum alam Indonesia, pasti kamu akan sangat bangga menjadi bagian dari negeri yang indah ini. Tak perlu jauh-jauh untuk traveling, di tempat terpencil dan tak banyak orang tahu pun menyimpan suatu keindahan alam yang tersembunyi. Salah satunya adalah di Sumedang, salah satu desa ditempat ini memiliki pesona tersembunyi yang indah. Nama tempat itu adalah SITU BIRU CILEMBANG.

Situ Biru Cilembang
Nama tempat ini berasal dari tiga kata yaitu “Situ”, “Biru” dan “Cilembang”. Bila diartikan secara etimologi Situ Biru Cilembang berarti “Danau Biru Cilembang”. Belum ada yang menjelaskan secara jelas kenapa tempat ini dinamai Cilembang, padahal tempat ini jaraknya cukup jauh dari Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Dinamai “Biru” karena memang danau mini air ini memiliki air yang biru dan sangat jernih, karena sangat bening kamu bisa bercermin di tempat yang indah ini.
Keunikan dari danau mini ini adalah letaknya yang sangat tersembunyi, yaitu berada di tengah sawah dan diantara rimbunnya pepohonan bambu. Tempat ini selain jernih airnya, juga sangat hijau dan menyegarkan pemandangan di sekitar danau biru ini.

Danau Biru Instagram
Situ Biru Cilembang ini sebenarnya sudah ada sejak dulu, namun baru pada awal januari 2016 tempat ini resmi dibuka untuk umum dan dijadikan sebagai tempat wisata. Sebelumnya danau ini dipakai sebagai kolam pemancingan bagi warga sekitar, dan hal itu akan semakin ramai pada musim puasa yaitu pada waktu “ngabuburit”. Mereka menghabiskan waktu ditempat ini sambil menikmati keindahan alam yang indah di sekitar danau biru ini.
Tak dapat diragukan bila sosial media memegang peranan yang sangat penting. Tempat yang semula biasa saja, bisa berubah menjadi ramai dikunjungi ratusan pengunjung setiap harinya. Hal itu terbukti pada tempat ini, awalnya hanya beberapa orang saja yang datang dan kemudian berselfie di danau biru ini, lalu mereka memposting fotonya di beberapa sosial media, maka jadilah tempat ini semakin dikenal banyak orang dan semakin ramai dikunjungi oleh wisatawan. Dan kini Situ Biru Cilembang ini menjadi salah satu wisata alternatif yang ada di Sumedang.

Mata Air Tua yang Tetap Memesona
Situ Biru Cilembang ini berbentuk seperti danau kecil yang airnya sangat jernih dan berwarna biru karena akibat dari pantulan cahaya sinar matahari. Sebenarnya danau biru ini adalah sebuah tempat mata air, namun sumber dari mata air ini bisa dikatakan tidak terlihat karena berada di dasar danau.
Di tempat ini dahulu ada tiga buah mata air yang letaknya sangat berdekatan. Yang pertama berada di puncak bukit, mata air kedua berada di bawahnya yang kini disebut sebagai Situ Biru Cilembang, sedangkan satu lagi berada di paling bawah dan berada di dekat sawah. Mata air yang ketiga ini bisa untuk digunakan untuk berenang dan berbentuk seperti kolam renang mini. Namun sayang, mata air yang berada di puncak bukit sudah tidak ada karena terjadi longsor, sehingga sumber air yang dulu terlihat mengalir menuju Situ Biru Cilembang menjadi tertutup dan tak terlihat.
Situ Biru Cilembang ini sudah sejak lama ada, dan kolam renang mini yang kini sering digunakan sarana untuk berenang bagi warga sekitar sudah ada sejak tahun 60-an. Meskipun umur dari mata air dan kolam renang ini sudah tua, tapi warnanya yang biru dan jernih masih tetap memesona dan indah.
20160124_140845
Tak Boleh Berenang di Situ Biru Cilembang
Untuk kamu yang ingin menikmati segarnya Situ Biru Cilembang ini, kamu hanya bisa menikmatinya sebatas cuci muka saja. Kamu tak diperbolehkan berenang atau mencuci kaki. Hal itu dikarenakan agar tempat ini tak menjadi kotor dan tetap terjaga keasriannya. Selain itu tempat ini juga masih dikeramatkan oleh warga sekitar.

Fasilitas Situ Biru Cilembang
Situ Biru Cilembang ini sebagai tempat wisata lokal bisa dibilang telah memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Ditempat ini terdapat toilet serta kamar ganti bagi mereka yang sudah basah karena telah berenang di kolam renang mini. Ditempat ini juga terdapat sasaungan bagi mereka yang ingin melepas lelah atau duduk agar tak kehujanan saat hujan datang, ditempat ini juga banyak terdapat warung kecil yang menjual beberapa makanan dan minuman yang bisa dibeli agar tak kelaparan atau kehausan.
Akses jalan menuju lokasi Situ Biru Cilembang ini juga sudah baik sehingga para pengunjung bisa berjalan kaki dengan nyaman. Lokasi parkir untuk kendaraan motor pun sudah tersedia ditempat ini. Namun untuk kamu yang membawa kendaraan roda empat atau mobil, tempat ini tak memiliki cukup ruang yang luas.
20160124_141638
20160124_141617

Tiket Masuk Situ Biru Cilembang
Untuk bisa menikmati semua keindahan alam dan birunya danau mini ini kamu hanya perlu membayar biaya seikhlasnya sebagai perawatan dari wisata alam ini. Namun saat ini, Situ Biru Cilembang telah digarap oleh pemuda Karang Taruna desa Conggeang, dan dikemudian hari akan diberlakukan sistem retribusi tiket setelah mendapat persetujuan dari pengurus desa dan warga setempat yang tanahnya dipakai sebagai akses jalan dan berdekatan dengan kawasan wisata Situ Biru Cilembang.
Selain itu kamu hanya perlu membayar parkir sebesar 2.000 rupiah untuk kendaraan motor dan 5.000 rupiah untuk kendaraan mobil.

Lokasi/Alamat Situ Biru Cilembang
Secara administratif Situ Biru Cilembang ini berada di Dusun Curug, Desa Hariang, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang, Propinsi Jawa Barat.

Rute Menuju Situ Biru Cilembang
Untuk bisa sampai di Situ Biru Cilembang ini bisa diakses dengan menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat. Jalanan pun sudah bagus meskipun ada jalan yang berlubang atau bergelombang di beberapa titik.
Tujuan utama adalah mengunjungi Sumedang, lalu mengarahkan kendaraan menuju Perempatan Cimalaka. Setelah tiba di Perempatan Cimalaka, kembali arahkan kendaraan menuju Pertigaan Legok. Dari tempat tersebut tinggal mengikuti jalan menuju Kecamatan Buahdua, Desa Hariang. Kurang lebih sekitar 5 km dari Pertigaan Legok menuju Desa Hariang.
Berikut adalah rute singkat apabila bertolak dari Kota Bandung ; Kota Bandung – Cibiru – Cinunuk – Jatinangor (melewati Kampus IKOPIN, ITB & UNPAD) – Sumedang Kota (melewati Gunung Kunci & Makan Cut Nyak Dien) – Perempatan Cimalaka – Pertigaan Legok – Kecamatan Buahdua – Desa Hariang.
Gimana tertarik untuk datang dan mengunjungi Situ Biru Cilembang yang airnya biru ini? Jangan lupa ajak keluarga, teman atau partner traveling kamu agar perjalananya tak membosankan.
Happy wonderful traveling!

Sumber : http://ridwanderful.com

Wisata Kawah Ijen Yang Menawan

Saturday, September 12, 2015
Inilah salah satu pesona keindahan alam Indonesia yang luar biasa dan telah memukau banyak wisatawan dari berbagai negara. Di sinilah dapat Anda lihat danau kawah luas yang menakjubkan bersama api berwarna biru dari belerangnya saat malam hari. Selain menjadi tujuan wisata naik gunung, Kawah ijen juga merupakan tempat penambangan belerang tradisional yang hilir-mudik di arena bekas letusan kawah yang sebenarnya masih aktif.
Gunung Ijen sendiri berada di kawasan Wisata Kawah Ijen dan Cagar Alam Taman Wisata Ijen di Kecamatan Licin Kabupaten Banyuwangi dan Kecamatan Klobang Kabupaten Bondowoso. Gunung ini berada 2.368 meter di atas permukaan laut dimana puncaknya merupakan rentetan gunung api di Jawa Timur seperti Bromo, Semeru dan Merapi. Kawah Ijen merupakan tempat penambangan belerang terbesar di Jawa Timur yang masih menggunakan cara tradisional. Ijen memiliki sumber sublimat belerang yang seakan tidak pernah habis  dimanfaatkan untuk berbagai keperluan industri kimia dan penjernih gula. 
Kawah Ijen merupakan salah satu kawah paling asam terbesar di dunia dengan dinding kaldera setinggi 300-500 meter dan luas kawahnya mencapai 5.466 hektar. Kawah di tengah kaldera tersebut merupakan yang terluas di Pulau Jawa dengan ukuran 20 km. Ukuran kawahnya sendiri sekitar 960 meter x 600 meter. Kawah tersebut terletak di kedalaman lebih dari 300 meter di bawah dinding kaldera.

Pemandangan Kawah Ijen begitu menakjubkan ketika disinari Matahari pagi dengan memancarkan kemilau hijau toska. Sinaran yang juga menerpa dari balik Gunung Merapi, saudara kembar Gunung Ijen jangan sampai Anda lewatkan untuk diabadikan oleh kamera. Air kawahnya tenang berwarna hijau kebiruan namun Anda tidak diperkenankan menuruninya karena air kawah bervolume sekira 200 juta meter kubik itu panasnya mencapai 200 derajat celcius. Derajat keasaman kawah tersebut sangat tinggi mendekati nol sehingga bisa melarutkan pakaian bahkan tubuh manusia dengan cepat.
Dini hari pukul 01.00, saat Matahari belum membiaskan pijarnya menguak keindahan danau kawah ini ada keajaiban lain yang dihadirkan Ijen. Di bawah kawahnya berpijar api biru (blue fire) dari cairan belerang yang mengalir tanpa henti untuk dikeringkan oleh angin kemudian menjadi batu dan dicacah para penambang. Bongkahan belerang tersebut kemudian ditempatkan pada dua keranjang kayu dan dipakul menuruni gunung sejauh 3 km. Bukan beban yang ringan sebab berat keranjang pikul tersebut bisa mencapai 100 kg.

Kawah Ijen: Menyaksikan Api Biru dan Penambang Belerang Tradisional
Di tenggara kawah terdapat lapangan solfatara yang merupakan dinding danau Kawah Ijen. Di bagian barat terdapat Dam Kawah Ijen yang merupakan hulu dari Kali Banyupait. Lapangan solfatara Gunung Kawah Ijen selalu melepaskan gas vulkanik dengan konsentrasi sulfur yang tinggi dan bau gas yang kadang menyengat. Dam Kawah Ijen merupakan bagian dari objek wisata menarik tetapi tidak selalu dikunjungi oleh wisatawan dikarenakan jalan untuk menuju ke sana cukup sulit dan sering rusak karena longsor. Dam Kawah Ijen adalah bangunan beton yang dibangun sejak zaman Belanda dan dimaksudkan untuk mengatur level air danau agar tidak menyebabkan banjir air asam. Tetapi bendungan ini sekarang tidak berfungsi karena air tidak pernah mencapai pintu air akibat terjadinya rembesan air danau di bawah dam.

Sumber : http://www.indonesia.travel

Wisata Alam Goa Jatijajar Kab. Kebumen

Thursday, July 2, 2015
Goa Jatijajar adalah Goa Alam yang terletak di desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Goa ini terbentuk dari batu kapur dan telah diketemukan pada tahun 1802 oleh seorang petani yang memiliki tanah diatas Goa tersebut yang Bernama "Jayamenawi". Pada suatu ketika Jayamenawi sedang mengambil rumput, kemudian jatuh kesebuah lobang, ternyata lobang itu adalah sebuah lobang ventilasi yang ada di langit-langit Goa tersebut.
Gua Jatijajar ini terbentuk dari batu kapur, yang mempunyai panjang dari pintu masuk ke pintu keluar sekitar 250 meter, dengan lebar gua Jatijajar sekitar 15 meter, tinggi gua Jatijajar 12 meter, dan ketebalan langit-langit gua Jatijajar 10 meter, sedangkan ketinggian gua Jatijajar dari permukaan laut adalah 50 meter.
Konon kabarnya bahwa sejarah Goa Jatijajar  ini ditemukan oleh seorang petani yang memiliki tanah di atas Gua tersebut yang bernama Jayamenawi. Kisah penemuan Gua Jatijajar, berawal pada saat Jayamenawi sedang mengambil rumput, kemudian dia jatuh ke sebuah lobang, setelah terbangun dari jatuhnya, dia melihat ke sekeliling, lalu melihat ke atas, dan ternyata di atas ada sebuah lobang ventilasi yang ada di langit-langit Gua tersebut. Lobang ini mempunyai garis tengah 4 meter dan tinggi dari tanah yang berada di bawahnya sekitar 24 meter. Pada mulanya pintu-pintu Gua masih tertutup oleh tanah, maka setelah tanah yang menutupi dibongkar dan dibuang untuk mencari pintu keluar, ketemulah pintu Gua yang sekarang digunakan sebagai pintu masuk Gua Jatijajar. Karena di depan pintu Gua tersebut ada 2 pohon jati yang besar dan tumbuh sejajar, maka gua tersebut akhirnya diberi nama Gua Jatijajar.
Sejarah goa Jatijajar menjadi obyek wisata adalah pada tahun 1975 Gua Jatijajar mulai dibangun dan dikembangkan menjadi  
goa jatijajar kebumen 
Objek Wisata Kebumen. Dimana ide awal dari pengembangan Goa Jatijajar sebagai tempat wisata adalah Gubernur Jawa Tengah, Bapak Suparjo Rustam, dan pada waktu itu yang menjadi Bupati Kebumen adalah Bapak Supeno Suryodiprojo. Untuk melancarkan dan melaksanakan pengembangan Gua Jatijajar sebagai tempat wisata goa di Kebumen, ditunjuk langsung oleh Bapak Suparjo Rustam yaitu CV. AIS dari Yogyakarta, yang dipimpin oleh Bapak Saptoto yang berprofesi sebagai seorang seniman diorama terkenal di Indonesia. Sebelum dilakukan proyek pembangunan Jatijajar, terlebih dahulu Pemda Kebumen telah mengganti rugi tanah /pembebasan lahan penduduk yang terkena lokasi pembangunan Objek Wisata Gua Jatijajar, dengan luas lahan 5,5 hektar.
Setelah Gua Jatijajar dibangun maka pengelolaan obyek wisata eksotis ini dipegang oleh Pemda Kebumen. Sejak Gua Jatijajar dibangun, di dalam Gua Jatijajar sudah ditambah dengan bangunan-bangunan seni antara lain: pemasangan lampu listrik sebagai penerangan, ornamen gua, trap-trap beton untuk memberikan kemudahan bagi para wisatawan yang masuk ke dalam Gua Jatijajar, serta pemasangan patung-patung atau diorama.
Mitos Goa Jatijajar
Di dalam Gua Jatijajar terdapat 7 (tujuh) sungai atau sendang, tetapi yang dapat dicapai dengan mudah hanya 4 (empat) sungai yaitu: Sungai Puser Bumi, Sungai Jombor, Sungai Mawar, dan Sungai Kantil. Mitos sendang Puser Bumi dan Jombor konon airnya mempunyai khasiat yang dapat digunakan sebagai perantara atau tuah untuk segala macam tujuan menurut kepercayaan masing-masing. Sedangkan mitos sendang Mawar konon airnya jika untuk mandi atau mencuci muka, maka mempunyai khasiat bisa awet muda.Sedangkan mitos sendag Kanthil jika airnya untuk cuci muka atau mandi, maka niat dan cita-citanya akan mudah tercapai. Pada saat ini yang telah dibangun baru sendang Mawar dan sendang Kanthil, sedangkan sendang Jombor dan sendang Puser Bumi masih alami dan masih belum ada penerangan serta lokasinya sangat licin.
Di dalam Gua Jatijajar banyak terdapat Stalagmit dan juga Pilar atau Tiang Kapur, yaitu pertemuan antara Stalagtit dengan Stalagmit. Kesemuanya ini terbentuk dari endapan tetesan air hujan yang sudah ber-reaksi dengan batu-batu kapur yang ditembusnya. Menurut penelitian para ahli, proses pembentukan Stalagtit itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Dalam satu tahun terbentuknya Stalagtit paling tebal hanya setebal 1 (satu) cm saja. Oleh sebab itu Gua Jatijajar termasuk salah satu gua kapur tertua di dunia.
Batu-batuan yang ada di Gua Jatijajar merupakan batuan yang sudah sangat tua, karena umur yang sudah tua sekali itu, maka di depan Gua Jatijajar dibangun sebuah patung binatang purba Dinosaurus sebagai simbol objek Wisata Gua Jatijajar, dari mulut patung itu keluar air dari Sendang Kanthil dan sendang Mawar, yang sepanjang tahun belum pernah kering. Sedangkan air yang keluar dari patung Dinosaurus tersebut dimanfaatkan oleh penduduk sekitar sebagai pengairan sawah desa Jatijajar dan sekitarnya. Lokasi obyek wisata eksotis Goa Jatijajar adalah di Desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, sekitar 8 km dari Gombong. Arah dari timur untuk menuju goa Jatijajar adalah dari kota Gombong ke barat terus sampai ada gapura penunjuk di kiri jalan, terus belok ke selatan. 

(sumber: wikipedia)

Wisata Curug Leuwi Hejo dan Curug Barong

Sunday, May 10, 2015
Seperti cerita-cerita di blog para traveler lain, yang secara gamblang membahas destinasi tempat yang pernah mereka kunjungi atau baru mereka datangi, semisal dengan berbagi foto yang dapat menggambarkan tempat tujuan tersebut, yang pada akhirnya kita tertarik untuk mendatangi daerah dimana destinasi itu berada, disadari atau tidak secara tidak langsung, kita berperan andil dalam pembangunan daerah di sekitar destinasi itu, saya sendiri menyebut istilahnya orang yang suka membagikan info dari cerita ‘perjalananya’ walaupun tahu ga akan dibayar, bisa dinamakan Travelunteer, asal katanya dari Traveler dan Volunteer, Setuju-kan !!.Seperti kata mantan saya "Raisa" penyanyi itu (hehe), bilang ke saya, mengupload sesuatu ke media sosial itu bukan mau di lihat viewer atau ingin terkenalnya, tapi itu sebuah kepuasaan.
Leuwi Hejo dan Curug Barong. Adalah salah satu destinasi yang baru saya kenal pada akhir tahun 2014, mulai kenalan dengan Spot ciamik ini akibat racun dari teman-teman yang memajang foto leuwi hejo di status BBM nya. Penasaran dong, langsung saja saya search di kang Gogol daerah yang berada di Kampung Wangun Cileungsi Desa Karang Tengah Kecamatan Babakan Madang- Kabupaten. Bogor tersebut . Hasilnya wow ternyata daerah ini sudah cukup terkenal oleh orang-orang, karena dari hasil pengintaian di search engine nya Kang Gogol Leuwi Hejo dan Curug Barong sudah banyak dibahas oleh Blogger lain. Ahh tapi tidak apalah, karena kebenaran itu harus tetap di tegakan bukan..hahha.

Sejarah Dari Definisi
Sejarah pastinya Leuwi Hejo belum sempat terkorek dengan pasti bagaimana kumahanya, tapi berdasarkan definisi bisa di ketahui jika Leuwi Hejo berasal dari bahasa Sunda yaitu Leuwi atau Lubuk atau Tempat pemandian. Pengertian sebenarnya Leuwi adalah suatu area atau daerah tertentu pada sungai yg memiliki kedalaman tidak terukur jika kita menyelaminya atau bila mau mengukurnya bisa dengan batang kayu yg sangat panjang (biasanya pakai tangkal awi - 1 leunjeur ) . Permukaan air di Area atau daerah tersebut biasanya diteduhi oleh pepohonan yang sangat rimbun, terdapat bebatuan besar, air nya tenang seperti tanda tak dalam dan kadang membuatnya terkesan mistis. 
Sedangkan hejo sama juga dari bahasa Sunda yang artinya Hijau. Jadi kalau di definisikan Leuwi hejo adalah Tempat pemandian yang airnya jernih berwarna hijau. Tetapi terkadang masyarakat sekitar ada yang menyebut Leuwi Hejo dengan sebutan Curug Bengkok, karena mungkin disebut bengkok ya, memang aliran sungai di leuwi bengkok berkelok-kelok tidak lurus, juga air terjun bengkok memang terlihat tidak lurus.
Sedangkan arti Curug juga berasal dari bahasa sunda yaitu Air terjun, dan Barong adalah adalah karakter dalam mitologi Bali biasanya berbentuk binatang, sedangkan di Jawa disebut "Barongan". Ia adalah raja dari roh-roh serta melambangkan kebaikan. Menarik sekali  mengetahui sejarah dinamakannya Curug barong ini bila tahu seluk beluknya, mengapa dinamakan curug barong ?, tetapi dari definisi tersebut dan dari pengamatan saya di curug barong itu sendiri, akan terlihat sebongkah bebatuan besar yang berada di atas, tepat di samping aliran curug barong akan terlihat percis penampakan batu seperti seekor burung Garuda yang memiliki mata, hidung dan mulut serta sedikit siluet sayap yang dominan di kanan, bukan terlihat seperti barong yang ada di Bali yang sesuai definisi tadi. 
Mulai Perjalanan
Tidak sulit untuk bermain ke daerah ini, apalagi jika kalian berada di daerah Bogor – Jakarta bahkan Sukabumi. Kalau saya kebetulan domisili di bogor jadi akses jalannya tidak jauh kurang lebih 15 km dari tempat kami daerah Cibinong-Mayor Oking akses ke jalan baru lewat Citereup. Untuk pergi ke leuwi hejo dan curug barong dari daerah Bogor-Sukabumi atau daerah lain, Meeting Point dan patokannya paling enak tepat di depan gerbang luar  Jungle Land (pasti pada hafal). Dari Tol Jagorawi tinggal lurus saja, jangan lupa akses ke Sentul dan Jungle landnya dibaca biar tidak salah jurusan.kalo dari gambar di atas tinggal ikuti saja jalur ke Gn. pancar, mudah kok aksesnya.
Setelah ketemu gerbang luar Jungle Land, tinggal langsung ambil jalur kanan ( ingat bukan jalur kiri ) di pertigaan ini tidak ada tanda atau rambu-rambu menuju ke Leuwi hejo, bila ragu jangan sungkan untuk bertanya karena masyarakatnya pun sangat bersahabat dan saromeah. 
Tipsnya: recomend deh berangkat pagi kira-kira udah shalat subuh viewnya lebih keren dan di tkp untuk berenang kaya private pool kosong pisan euy. juga sebelum mulai mendaki ke Kampung Wangun Cileungsi lebih baik persiapkan perbekalan dulu dari bawah, berupa makanan, minuman serta jaket windbreaker, diusahakan juga perut tidak kosong, karena bila dijalan kendaraan mogok atau harus jalan kaki kalian masih punya cadangan tenaga..hihi
Tiba di Leuwi Hejo dan Curug Barong
Sebelum jalan masuk ke leuwi hejo, akan terpampang berupa spanduk jelas di kanan jalan “Selamat Datang di Wisata Alam Curug Bengkong Leuwi Hejo, Curug Barong”, dari jalan itu langsung saja masuk, sekitar 500 meter barulah sampai di Pos “Jaga” masuk ke Leuwi hejo dan Curug barong. Retribusi masuk per orang Rp.10.000, untuk Jasa parkir Rp.5.000 per motor. Sedangkan untuk mobil akses masuk hanya sampai di atas saja, sehingga di haruskan berjalan kaki yang lumayan lah buat otot kaki yang kendur.
Leuwi Hejo
Dari pos jaga retribusi untuk ke curug hejo tinggal turun saja sekitar 5 menit juga sampai, di sekitar aliran sungai leuwi hejo pun tak kalah menarik spotnya, ada beberapa kubangan air yang jernih bagi yang tidak bisa berenang. Untuk spot curug hejo lebih mantap lagi karena aliran air terjun dengan ketinggian sekitar 4 meter terjun bebas langsung ke leuwi hejonya, hasilnya kedalaman air cukup dalam dan menantang bagi yang mahir berenang.
Curug Barong
Nah leuwi hejo kan ke bawah, kalau curug barong itu “nanjak” ke atas, nanti minta petunjuk arah ke akang-akangnya, dari pos sekitar 15 menit jalan kaki. Curug barong sendiri memiliki ketinggian sekitar 7 meter dengan debit air yang deras, nanti akan terlihat seperti ada kubangan terowongan air tepat di bawah air terjunnya, menurut warga sekitar konon kubangan itu merupakan saluran air bawah tanah yang berbentuk terowongan, entah sampai mana ujung terowongan tersebut Dan amati pula bebatuan disana, nanti kalian akan serasa di amati oleh seeokor burung besar yang ada di atas air terjun, percaya dah.. dan kalian pun akan sepakat dengan saya kalau Curug itu enaknya di panggil “Curug Garuda”.
Tipsnya: tidak disarankan dan di anjurkan untuk pengunjung berenang disana, sangat berbahaya. kalau mau berenang mending di Leuwi hejo. tapi Kalau berfoto - foto sih boleh, ingat pula kantong plastiknya buat sampah.
 
 Sumber :  http://kalangkangmencrang.blogspot.com

Sensasi Keindahan Alam Tiada Duanya di Kalibiru

Thursday, March 5, 2015

Sungguh ramah Pegunungan Menoreh sore itu, setelah satu jam berkendara dari Jogja, hawa dingin menyegarkan dipersembahkan kepada kami sebagai salam pembuka. Perasaaan yang sejak siang diburu hiruk pikuk jalanan kota mendadak tenang, tiba-tiba tentram. Tak ada motor berseliweran, jalanan lengang, halaman asri di rumah-rumah penduduk desa membuat kami ingin segera pindah ke sini. Melemparkan ingatan pada rumah masa kecil, rumah di kampung halaman yang kini menjadi kediaman bagi kenangan.
Tempat Wisata alam hutan kemasyarakatan Kalibiru atau yang dikenal orang dengan nama Desa Wisata Kalibiru ini berlokasikan di barat kota Yogyakarta dengan jarak 40 Km, atau dari Kota Wates berjarak 10 Km, Kabupaten Kulon Progo. Dan alamat lengkapnya berada di Desa Hagrowilis, Kecamatan Kokap, Kulon Progo.
Waktu paling tepat untuk datang ke Kalibiru adalah sore hari, saat matahari mulai ramah dan suasana menjadi sedikit melankolis. Di sini ada sebuah pohon pinus yang terletak di pinggir jurang, dari pohon inilah kita bisa bebas lepas memandang moleknya pegunungan menoreh. Maka, jangan ragu untuk meniti tangga gantung yang telah tersedia, duduklah dengan tenang di papan kayu yang telah terpasang, hiruplah segar udara pegunungan, hembuskan perlahan sambil menutup mata. Nikmati setiap detik yang merangkak karena waktu akan terasa sangat lambat berjalan.
Dari atas Puncak Pohon pinus anda juga bisa berfoto dengan babckground waduk sermo. Tak hanya itu, anda juga dapat merasakan sensasi flying fox, dan jembatan kayu yang biasanya akan difungsikan di hari libur. Untuk itu, datang ke Desa Wisata Alam Kalibiru Kulon Progo Yogyakarta pada hari libur atau Minggu karena wahana akan aktif.
Untuk harga tiketnya Rp 5.000, itu belum termasuk parkir. Fasilitas di sana sudah cukup baik. Mulai tempat pertemuan, masjid, dan lain-lain, sehingga tempat ini cocok sekali untuk acara forum maupun outbound karena memang hawanya sangat sejuk sekali.
Jika telah tiba musim liburan, obyek wisata Kalibiru Kulon Progo Yogyakarta merupakan tempat yang cocok untuk melepas penat dari rutinitas harian kantor anda. Pesona Desa Wisata Kalibiru Kulon Progo Jogja memang dapat menyejukkan mata dan pikiran, nampak begitu ramainya wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke sini.

Disadur dari berbagai sumber.

Wisata Situ Lengkong Panjalu di Ciamis

Friday, October 10, 2014

Situ Lengkong terletak sekitar 35 km sebelah utara kota Kabupaten Ciamis atau 15 km sebelah barat Kota Kawali, berbatasan di sebelah utara dengan wilayah talaga Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan, suatu lingkup wilayah komunitas yang dulu dikenal sebagai pusat kerajaan Panjalu. Temuan-temuan data kepurbakalaan, nilai- nilai sosial kultural serta jejak kesejahteraan lainnya yang kini masih terlestarikan, memberikan petunjuk tentang masa lalu kota itu. Sebagai kota kerajaan kuno yang dikenal sebagai kerajaan Soko Galuh Panjalu. Ibu kota Kerajaan itu dibangun pada areal suatu danau (situ) seluas 70 Ha, yang kini disebut Situ Lengkong, terletak disepanjang tepi utara kota Panjalu, sekarang terdapat tiga buah Nusa (pulau kecil). Pada situ tersebut yang masing- masing digunakan sebagai tempat bangunan Istana Kerajaan, Kepatihan dan staf kerajaan dan sebagai taman rekreasi. Pendiri ibu kota kerajaan adalah tokoh karismatik leluhur Panjalu bernama Borosngora Raja Panjalu islam pertama.
Wisatawan yang datang ke Panjalu pada umumnya adalah para penziarah mengunjungi Tokoh Raja Panjalu, teristimewa pemakaman Prabu Harian Kancana di Nusa Situ Lengkong (Situ Istana Kerajaan) serta danau itu sendiri yang bernuansa religius, disamping itu juga mengunjungi Musium Bumi Alit. Dimana disimpan benda- benda peninggalan bersejarah seperti Menhir, Batu Pengsucian, Batu Penobatan, naskah- naskah dan benda- benda pekakas peninggalan milik Raja-raja dan Bupati Panjalu masa lalu, terutama perkakas yang disebut benda pusaka Panjalu yang berupa Pedang, Cis dan Genta (lonceng kecil) peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora.

Kerajaan Panjalu, Kerajaan Islam Sunda
Terjadinya Situ Lengkong Panjalu, tidak terlepas dari sejarah Kerajaan Panjalu. Konon sekitar abad VII, hiduplah seorang raja Panjalu bernama Prabu Sanghyang Boros Ngora. Dia memimpin Panjalu dengan adil dan bijaksana sehingga sangat dicintai rakyatnya. Boros Ngora pada waktu itu beragama Hindu dan kerajaan Panjalu adalah kerajaan Hindu.
Suatu waktu, Boros Ngora berkelana dengan maksud mencari ilmu pengetahuan. Sampailah di sebuah tempat yang di sekitarnya terdiri dari bebatuan dan pasir. Rupanya tanah yang diinjaknya itu adalah tanah suci Mekkah. Di sanalah ia berguru kepada Sayyidina Ali r.a., yang dikenalnya sakti mandraguna. Prabu Sanghyang Boros Ngora pun menguasai ilmu sejati yakni agama Islam yang membawa pada keselamatan dunia dan akhirat.
Setelah itu, dia pulang membawa oleh-oleh dari sahabat Nabi berupa pakaian kehajian, pedang dan air zam-zam. Air zam-zam dibawanya dalam sebuah gayung yang permukaannya bolong-bolong pemberian ayahnya Prabu Sanghyang Cakra Dewa. Dengan izin Yang Maha Kuasa ia dapat membawa air zam-zam itu pulang ke tempat asalnya, Panjalu.
Setibanya di Panjalu, air zam-zam itu ditumpahkannya di sebuah tempat yaitu Lembah Pasir Jambu. Sampai saat ini diyakinilah bahwa Situ Lengkong Panjalu terjadi karena tumpahan air zam-zam yang dibawa Sanghyang Prabu Boros Ngora. Di tengah-tengah danau terdapat daratan yang dinamai Nusa Gede.

Sumber : www.disparbud.jabarprov.go.id











Wisata Danau Toba dan Pulau Samosir

Thursday, August 1, 2013

Danau toba adalah sebuah danau vulkanik yang sejatinya merupakan bekas kawah letusan gunung terbesar di dunia, dengan sebuah pulau di tengahnya yang diberi nama pulau Samosir.
Danau toba memiliki luas 1707 Km persegi atau lebih dari dua kali luas Singapura, terbentuk dari letusan gunung purba raksasa yang menurut beberapa penelitian disaat letusannya sempat merubah iklim dunia dan membawa dunia ke dalam zaman es. Letusan raksasa tersebut hampir memusnahkan manusia di dunia ini. Peninggalan letusan tersebut masih bisa dilihat berupa kaldera terbesar di dunia yang saat ini terisi air menjadi danau Toba. Pulau samosir adalah bagian kaldera yang tidak terendam air, terletak di tengah-tengah danau Toba dan merupakan pusat dari kebudayaan Batak.
Danau toba merupakan salah satu tujuan wisata populer di indonesia, mesti demikian tempat ini sebenarnya tidak terlalu ramai, sehingga cocok untuk anda yang ingin bersantai.

Danau Toba
Untuk mencapai danau Toba, Dari kota Medan anda bisa menuju Parapat dengan lama perjalanan sekitar 5 Jam. Apabila anda tiba di Medan menggunakan pesawat terbang, dari bandara pertama anda harus menuju terminal Bus Amplas menggunakan kendaraan umum No 64 dengan harga Rp. 3000 / Orang. Dari terminal Amplas ambil Bus menuju Parapat dengan tarif sekitar Rp. 22.000 / Orang. Apabila anda ingin lebis simple, anda bisa menyewa mobil dengan tarif sekitar Rp. 450.000 sudah termasuk driver dan bahan bakar, atau bisa menggunakan Taxi.
Alternatif lain menuju danau Toba ialah dengan menggunakan kereta api. Perjalanan menggunakan kerteta api menuju Pematang Siantar atau Tebing Tinggi menyguhkan pemandangan yang tak akan terlupakan, sangat indah. Dari sini anda bisa melanjutkan perjalanan ke Parapat dengan menggunakan Taxi.

Ukiran rumah Tradisional Batak
Anda bisa menyeberang menuju pulau Samosir dengan menggunakan kapal kayu atau seedboat Dari Tigaraja, kota pelabuhan Parapat. Dan jika Anda menggunakan kenderaan roda empat, Anda harus melewati kota Ajibata yang berjarak sekitar 1 km dari Parapat. Disana Anda dapat menemukan kapal ferri untuk membantu penyeberangan anda setiap 2 jam sekali. Di pulau Samosir Anda dapat menemukan sebuah kota wisata Tomok. Jika anda menggunakan kapal ferri sebagai media penyeberangan, Anda akan sampai di kota kecil ini. dan jika Anda menggunakan boat, maka anda dapat langsung menuju hotel yang menjadi pilihan anda di kawasan Tuktuk Pulau Samosir yang berjarak tidak terlalu jauh dari kota Tomok. Di Tuktuk anda dapat menemukan banyak penginapan sesuai dengan yang anda butuhkan.
Pemandangan eksotis lain akan anda dapatkan ketika anda menaiki ferry menuju pulau samosir, suasana yang memberikan ketenangan batin. Selama perjalanan anda bisa menikmati jajanan yang banyak dijajakan oleh pedagang asongan yang ramah.
Dari Parapat perjalanan dilanjutkan dengan menaiki perahu / kapal ferry menuju pulau samosir dengan tarif Rp. 7000 / Orang, tujuannya ialah Tuktuk Siodang di pulau Samosir. Tuktuk adalah salah satu tempat yang tepat untuk menikmati danau Toba, di sini juga banyak terdapat hotel & penginapan yang dapat anda gunakan.

Pulau Samosir
Selain menikmati keindahan alam dan danau serta keramahan penduduknya, selama berada di Samosir anda bisa melihat objek wisata lain seperti melihat kuburan batu, Simando, Ambarita (meja batu tempat hukuman tradisional Batak) atau berenang di kolam air panas alam.

Disadur dari berbagai sumber.

Objek Wisata Yang Ada di Kuningan, Jawa Barat

Monday, July 29, 2013

Kabupaten Kuningan terletak di bagian timur Jawa Barat. Kuningan merupakan perlintasan jalan yang menghubungkan kota Cirebon dengan wilayah Priangan Timur dan sebagai jalan alternatif jalur tengah yang menghubungkan Bandung-Majalengka dengan Jawa Tengah. Kuningan memiliki bentang alam fariatif mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi dengan puncak tertinggi di Jawa Barat yaitu puncak gunung Cremai (3.076 m).
Selain bentang alam yang memikat, Kuningan juga memiliki pesona wisata budaya yang menarik, salah satunya ialah situs Cipari yang menunjukan bahwa daerah ini sudah dihuni oleh manusia sejak zaman pra sejarah atau sekitar 3.500 tahun sebelum masehi. Beberapa potensi wisata yang dapat anda kunjungi di tanah Kuningan antara lain :


Telaga Remis
Talaga Remis merupakan sebuah danau yang terletak di Desa Kaduela, Kuningan, berjarak sekitar 37 km dari pusat kota Kuningan. Konon nama danau ini diambil dari binatang remis, sejenis kerang bewarna kuning yang banyak hidup di sekitar telaga ini.
Telaga remis itu sendiri sejatinya terdiri dari beberapa telaga yang terpisah, yakni Telaga Leat, Telaga Nilem, Telaga Deleg, Situ Ayu Salintang, Telaga Leutik, Telaga Buruy, Telaga Tespong, dan Sumur Jalatunda. Objek Wisata Telaga Remis menyimpan keanekaragaman flora dan fauna, terdapat kurang lebih 160 jenis tumbuhan diantaranya sonokeling, malaka, kosambi dan lain-lain.
Talaga Remis memiliki pemandangan pegunungan yang indah serta danau dengan air yang jernih sehingga cocok untuk berwisata. Kebanyakan wisatawan yang berkunjung menghabiskan waktu dengan menikmati makanan khas berupa ikan gurame yang banyak terdapat di restaurant-restaurant di sini, selain menikmati wisata air dengan menggunakan sepeda air atau perahu, atau sekedar berjalan kaki menikmati pemandangan danau dan hutan dengan udara yang bersih. Daya tarik lain tempat ini adalah adanya satu jenis tumbuhan langka yaitu Pisang Hyang.menjadi obyek wisata budaya yang cukup terkenal baik di dalam negeri maupun mancanegara.

Gunung Ciremai
Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat, menjulang tinggi sekitar 3.078 Meter di atas permukaan laut. Di puncaknya gunung ini memiliki sepasang kawah yang berpotongan, yaitu di ketinggian sekitar 2.900 Meter di atas permukaan laut. Gunung Ciremai merupakan gunung soliter yang terpisah dari gunung-gunung lain, dan masuk kedalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai dengan luas sekitar 15.000 Hektar.  

Taman Wisata Alam Linggajati
Taman Wisata Alam Linggarjati adalah salah satu objek wisata alam yang terletak di Kabupaten Kuningan. Linggarjati juga merupakan salah satu tempat titik awal pendakian ke puncak Gunung Ciremai.
Danau lingga jati
Salah satu daya tarik tempat ini ialah keanekaragaman flora dan fauna yang terdapat didalamnya. Flora yang terdapat di kawasan ini di antaranya : Bungur (Lagerstroemia sp), Pasang (Quercus sp), Kiara (Ficus sp), Lemo (Alstonia scholaris), Jamuju (Podocarpus imbricatus) dan Kiacret (Spathodea campulata). Jenis pohon-pohon tersebut tumbuh dengan baik dan kini telah banyak yang berdiameter lebih dari 50 cm dengan tinggi bebas cabang ± 10 meter serta memiliki tajuk yang lebar, sehingga membuat suasana menjadi sejuk bagi wisatawan. Jenis fauna yang ada di taman Wisata Alam Linggarjati adalah jenis burung seperti Burung Pipit (Lonchura leucogastoides) dan Kepodang (Oriolus chinensis), jenis satwa lainnya.
Di samping panorama alam yang indah Taman Wisata Alam Linggarjati memiliki hawa yang sejuk dan segar. Tidak jauh dari lokasi ini juga terdapat bangunan yang bernilai sejarah, yaitu gedung tempat berlangsungnya Perjanjian Linggarjati antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Belanda yang mempunyai daya tarik tersendiri.
Taman Wisata Alam Linggarjati dari Bandung berjarak ± 160 Km, atau sekitar 28 Km dari kota Kuningan.


Waduk Darma
Waduk Darma adalah sebuah waduk yang terletak di sebelah barat daya dari kota Kuningan,  tepatnya di Kecamatan Darma Apabila anda melakuka perjalanan darat dari Cirebon-Kuningan-Ciamis atau sebaliknya anda akan melewati waduk ini. Jarak obyek wisata ini adalah ± 12 km dari kota Kuningan dan dari ± 37 km dari kota Cirebon .

Waduk ini selain berfungsi sebagai penampungan air untuk pengairan dan perikanan juga dapat dijadikan sarana rekreasi dan olahraga. Pemandangan senja hari di sini sangat indah, anda bisa menyewa perahu yang banyak terdapat di sini untuk mengelilingi danau.

 
Sangkanhurip
Sangkanhurip atau Resort Prima Sangkanhurip merupakan sebuah hotel bintang yang terletak di kaki Gunung Ciremai, dengan jarak sekitar 35 Km dari Cirebon menuju Kuningan. Resort ini memiliki pemandangan yang indah dan udara pegunungan yang segar di Kuningan.
Sangkanhurip
Resort Prima Sangkan Hurip memiliki 19 Deluxe Room tipe twin bed, 3 Standard Room tipe tempat tidur single, 3 Superior Room tipe tempat tidur single, 8 New Deluxe Room tipe tempat tidur single, 4 Bungalow Suite dan tipe single dan twin bed setiap ruang tamu dilengkapi dengan penyejuk udara, TV Program, Telepon, Bath tube dengan air panas.

Desa Sitonjul
Desa Sitonjul adalah salah satu kawasan wisata di Kabupaten Kuningan. Lokasinya masih di daerah Sangkanhurip ata sekitar ± 13 km ke arah utara dari Kuningan atau ± 24 km dari arah kota Cirebon ke arah selatan.
Di tempat ini anda akan melihat suasana pedesaan yang asri dengan berjalan kaki sekitar 4 Km menyusuri alam perdesaan dimulai dari Dusun Simenyan Kidul, Hutan Rakyat, Makam Umum, Tegalan dan Pesawahan, Bulak Jati, Dusun Tonjong, Pesawahan, Tanggul Irigasi, Bendung Katiga diakhiri di Dusun Munjul Kaler. Selain pemandangan dan keunikan alam pedesaan yang indah, selama perjalanan anda akan menyebragi sungai bahkan bisa mandi di sungai tersebut layaknya menjadi penduduk desa setempat.


Air Terjun / Curug Sidomba
Berlokasi di desa Peusing kecamatan Jalaksana yang dapat ditempuh sekitar 30 menit dari kota Kuningan Jawa Barat. Kata  'Curug' diambil dari bahasa Sunda yang berarti air terjun, dan 'Sidomba' dari nama binatang domba atau kambing karena di daerah ini banyak terdapat domba. Air terjun curug Sidomba memiliki ketinggian 3 meter. Curug ini merupakan salah satu curug buatan di sungai yang jalurnya tepat mengalir di daerah ini, airnya cukup jernih, dingin dan segar bersumber dari mata air gunung Ciremai, sungai Curug Sidomba dibendung dan terdapat berbagai macam ikan, seperti ikan mas, dan ikan 'Kancra Bodas'.
Fasilitas yang ada di Curug Sidomba ialah restaurant, 'saung' dan arena bermain anak, di area ini juga tersedia camping ground. Di lokasi ini juga terdapat Mesjid megah dengan satu menara tingga dengan jumlah 99 anak tangga. dari atas menara, anda dapat melihat keindahan alam kaki Gunung Ciremai.


Situs Purbakala Cipari
Situs Purbakala Cipari merupakan situs peninggalan era megalitikum dari masyarakat purba yang hidup di daratan Sunda Besar, yaitu dataran yang mencakup Sumatera, Jawa, dan Kalimantan serta laut yang menghubungkan ketiganya pada sekitar 10.000 tahun yang lalu.
Situs ini pertama kali ditemukan pada tahun 1972, berupa komplek pekuburan. Situs ini terhitung cukup lengkap menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa itu, sehingga saat ini menjadi tujuan wisata purbakala yang  sangat menarik. Lokasi ini juga dilengkapi dengan museum.


Desa Setianegara & Palutungan
Desa Setianegara memiliki daya tarik weisata tepatnya di hutan Setianegara yang menyimpan keanekaragaman flora dan fauna, alam yang asri dan udara yang sejuk. Sementara itu Palutungan juga mempunyai pemandangan alam yang indah serta lingkungan yang asri sangat cocok bagi mereka yang senang keindahan alam yang masih asli.


Cibulan
Kolam pemandian Cibulan merupakan salah satu objek wisata tertua di Kuningan. Obyek wisata ini diresmikan pada 27 Agustus 1939. Keunikan kolam ini ialah di dalamnya hidup ikan yang bernama ikan Dewa, yang konon merupakan jelmaan dari prajurit yang membangkang kepada prabu Siliwangi dan dikutuk menjadi ikan. 


Balong Keramat Darmaloka
Balong dalam bahasa Indonesia adalah kolam. Berlokasi di desa Darma, kecamatan Darma, sekitar 13,5 km ke arah selatan dari kota Kuningan atau ± 48 km dari kota Cirebon juga ke arah selatan. Konon Balong Keramat Darmaloka merupakan bekas peninggalan zaman Walisanga dalam rangka penyebaran agama Islam ratusan tahun yang lalu. Balong Keramat Darmaloka itu sendiri sebetulnya terdiri atas beberapa bagian yaitu Balong Ageung, Balong Bangsal, Balong Beunteur, Bale Kambang dan Sumber Air Cibinuang. Balong Kramat Darmaloka juga dihuni oleh Ikan Kancra Bodas.


Upacara Adat Seren Taun
Seren Taun adalah upacara adat panen padi masyarakat Sunda yang dilakukan tiap tahun. Upacara adat ini merupakan syukuran masyarakat agraris jawa barat atas hasil panen yang telah didapat selama satu tahun. Diramaikan ribuan masyarakat lokal bahkan dari beberapa daerah di Jawa Barat dan mancanegara.

Disadur dari berbagai sumber.
 

Pariwisata Indonesia Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger